ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

15 Desember 2010

Prajurit Keraton Jogjakarta


Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang disebut bregada (=brigade?). Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang bertugas untuk mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam
bregada. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji. Sementara regu-regu dalam setiap bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Keseluruhan perwira dalam semua bregada dipimpin oleh seorang Pandega. Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton adalah seorang Manggalayudha.

Saat ini, keberadaan bregada-bregada prajurit Keraton berada dibawah Pengageng Tepas Kaprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bregada-bregada prajurit Keraton ini selalu tampil dengan urutan dan formasi tertentu sesuai peran dan fungsi masing-masing, sebagaimana yang ditampilkan dalam setiap defile pada upacara Garebeg.

Setiap defile biasanya dimulai dengan tampilnya Bregada Prajurit Wirobrojo. Dahulu, Prajurit Wirobrojo selalu berada di garis terdepan dalam setiap pertempuran. Karenanya di masa kini dalam berbagai upacara adat, bregada ini selalu diposisikan di barisan paling depan. Bregada Prajurit Wirobrojo menggunakan seragam berbentuk sikepan, ikat pinggang dari kain satin dan celana panji yang semua berwarna merah, sepatu pantopel hitam dengan kaus kaki putih, serta topi berbentuk lombokan berwarna merah yang disebut Kudhup Turi. Benderanya bernama Gula Klapa, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Santri dan Kanjeng Kyai Slamet. Alat musik tambur dan seruling yang melengkapi korps musiknya, melantunkan lagu bernama Gendhing Dayungan dan Lagu Rotodadali. Senjata yang melengkapinya berupa senapan api dan tombak. Karena model seragamnya yang menyerupai lombok merah, Prajurit Wirobrojo juga disebut sebagai Prajurit Lombok Abang. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata ” Brojo “.

Pada urutan berikutnya, tampil Bregada Prajurit Dhaheng. Pengambilan nama bregada ini berkaitan dengan asal-usul para prajuritnya yang berasal dari Sulawesi. Ciri Bregada Prajurit Dhaheng adalah baju dan celana panjang putih dengan strip merah pada bagian dada dan samping celana, topi berbentuk mancungan berwarna hitam dengan hiasan bulu ayam warna merah putih. Benderanya bernama Bahning Sari, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Jatimulyo atau Doyok. Korps musik Bregada Prajurit Dhaheng memainkan perangkat musik tambur, seruling, bende, ketipung, pui-pui dan kecer. Lagu yang didendangkan bernama Ondal-andil dan Kenobo. Senjata yang melengkapi Bregada Prajurit Dhaheng adalah senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata “Niti”.

Di belakang Prajurit Dhaheng, tampil Bregada Prajurit Patangpuluh. Bregada ini, bermula dari 40 orang prajurit yang pada jamannya dikenal memiliki keberanian dan ketangguhan luar biasa, yang sangat diandalkan di medan pertempuran. Prajurit Patangpuluh menggunakan seragam berbentuk sikepan dengan corak lurik khas Patangpuluh, celana pendek merah di luar celana panjang putih, rompi berwarna merah, sepatu lars hitam serta tutup kepala berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Cakragora, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Korps musik Bregada Prajurit Patangpuluh dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling dan terompet yang melagukan Mars Bulu-bulu dan Gendera. Bregada Prajurit Patangpuluh dipersenjatai dengan senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata “Himo”.

Selanjutnya tampil Bregada Prajurit Jogokaryo. Ciri Bregada Prajurit Jogokaryo adalah seragam berbentuk sikepan dan celana bercorak lurik khas Jogokaryo dengan rompi kuning emas, sepatu pantopel hitam dengan kaos kaki biru tua serta topi hitam bersayap. Benderanya bernama Papasan, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Bregada ini dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling, dan terompet, yang melagukan Tameng Madura dan Slagunder. Bregada Prajurit Jogokaryo dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata ” Parto “.

Bregada Prajurit Prawirotomo yang tampil di belakang Bregada Prajurit Jogokaryo beranggotakan para prajurit yang memiliki kelebihan dibanding prajurit lainnya. Kisah keberadaan bregada ini berasal dari sekitar 1000 orang anggota Laskar Mataram yang membantu Pangeran Mangkubumi dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda. Laskar ini selalu berhasil gemilang dalam setiap pertempuran, sehingga mendapatkan nama Prawirotomo. Bregada ini menggunakan seragam berbentuk sikepan berwarna hitam serta celana pendek merah diluar celana panjang putih, sepatu lars hitam serta topi hitam berbentuk kerang. Benderanya bernama Geniroga atau Bantheng Ketaton, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling dan terompet yang mengumandangkan lagu Pandeburg dan Mars Balang. Senapan api adalah senjata utama yang melengkapi Prajurit Prawirotomo. Ciri nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata ” Prawiro “.

Berikutnya adalah Bregada Prajurit Ketanggung. Para prajurit dalam bregada ini pada jamannya bertanggung jawab atas keamanan di lingkungan Keraton, sebagai penuntut perkara, serta berkewajiban mengawal Sultan pada setiap kunjungan keluar Keraton. Seragam Bregada Prajurit Ketanggung berbentuk sikepan dengan corak lurik khas Ketanggung serta celana pendek hitam diluar celana panjang putih, sepatu lars hitam dan topi berbentuk mancungan berwarna hitam yang dihiasi dengan bulu-bulu ayam. Benderanya bernama Cakraswandana, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Nanggolo. Korps musik bregada prajurit ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, terompet dan bende yang mengumandangkan lagu Bergola Milir atau Lintrik Emas dan Harjuno Mangsah atau Bima Kurda. Bregada Prajurit Ketanggung dipersenjatai dengan senapan api dengan bayonet terhunus serta tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata ” Joyo “.

Yang tampil pada urutan berikutnya adalah Bregada Prajurit Mantrijero. Pada jamannya, Bregada Prajurit Mantrijero beranggotakan menteri-menteri di Keraton yang bertugas sebagai hakim yang memutuskan perkara. Tugasnya sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Prajurit Mantrijero berseragam sikepan dan celana panji dengan corak lurik khas Mantrijero, sepatu model pantopel berwarna hitam dengan kaos kaki warna putih, serta topi berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Purnamasidi, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Cokro. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, dan terompet yang mengumandangkan lagu Plangkeman, Slagunder dan Mars Stok. Bregada Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata ” Joyo, Bahu, Prawiro atau Rono “.

Di belakang Bregada Prajurit Mantrijero adalah Bregada Prajurit Nyutro dengan ciri seragamnya yang sangat khas dan unik. Sebetulnya, bregada ini lebih bersifat sebagai prajurit klangenan, bukan sebagai prajurit perang. Ciri khas para prajurit yang menjadi anggota bregada ini adalah kewajiban memiliki ketrampilan menari atau mbeksa. Tugasnya adalah sebagai pengawal dalam upacara Garebeg dan sebagai penjaga keselamatan Sultan pada saat duduk pada singgasana di Sitihinggil. Bregada ini terbagi 2 kelompok dengan seragam yang berbeda. Kelompok pertama berseragam rompi dan celana panji berwarna hitam, kain kampuh biru tua dengan warna putih ditengahnya serta ikat kepala berbentuk udheng gilig berwarna hitam. Jika seragam kelompok pertama didominasi warna hitam, seragam kelompok kedua didominasi warna merah. Sejatinya prajurit ini tidak menggunakan alas kaki. Bendera kelompok pertama bernama Padma Sri Kresna dan Podang Ngisep Sari untuk kelompok kedua, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling dan terompet yang mendendangkan lagu Surengprang dan Tamtama Balik. Sementara ciri senjata yang melengkapi Bregada Prajurit Nyutra berupa senapan api dan tombak berikut perisai atau tameng. Ciri nama para prajuritnya mengambil nama-nama tokoh dalam pewayangan.

Berikutnya adalah Bregada Prajurit Bugis. Sebagaimana Bregada Prajurit Dhaheng, bregada ini para anggotanya berasal dari Sulawesi. Bregada ini sehari-hari bertugas sebagai pengawal Pepatih Dalem yang berada di Kepatihan. Pada jaman Belanda, bregada ini tidak termasuk dalam kewenangan Keraton. Saat ini, Bregada Prajurit Bugis difungsikan sebagai pengawal Gunungan pada setiap upacara Garebeg. Seragam yang digunakan para Prajurit Bugis berupa baju berbentuk kurung dan celana panjang hitam, topi hitam dan dipersenjatai dengan tombak panjang. Korps musik Bregada Prajurit Bugis dilengkapi dengan alat musik tambur, pui-pui, bende dan ketipung kecil. Benderanya bernama Wulandadari, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu diawali dengan kata “Rangsang”.

Dalam setiap upacara Garebeg, di belakang barisan yang membawa sejumlah Gunungan, tampil Bregada Prajurit Surakarsa yang bertugas mengawal Gunungan di bagian belakang. Dahulu, bregada ini bertugas sebagai pengawal Pangeran Adipati Anom, yaitu putera mahkota yang berada di nDalem Mangkubumen. Bregada Prajurit Surokarsa berseragam berbentuk sikepan dan celana berwarna putih, kain sapit urang, dilengkapi ikat kepala serupa blangkon berwarna hitam dan sepatu serta kaus kaki berwarna hitam. Benderanya bernama Pare Anom, dengan dwaja bernama Dapur Banyak Angrem. Bregada ini juga memiliki korps musik yang dilengkapi dengan perangkat musik tambur dan seruling, serta dipersenjatai dengan tombak panjang.

Disamping ke-10 bregada prajurit yang ada pada masa ini, dahulu Keraton Kasultanan Yogyakarta juga memiliki sejumlah kesatuan lain yang memiliki tugas dan ciri khas tertentu, diantaranya : Prajurit Sumoatmojo, Prajurit Jager, Prajurit Langenastro dan Prajurit Langenarja. Prajurit Sumoatmojo merupakan bagian dari Bregada Prajurit Nyutra yang dipersenjatai dengan sebilah pedang berikut perisai atau tameng dan bertugas sebagai pengawal pribadi yang langsung berada dibawah komando Sultan. Prajurit Jager merupakan pasukan bersenjata senapan api yang tidak mempunyai seragam khusus, hanya berbusana dinas sehari-hari sebagaimana para pegawai atau punggawa Keraton. Prajurit Langenastro adalah pasukan tambahan yang dimasukkan dalam Bregada Prajurit Mantrijero, yang pada jamannya memiliki senjata khas berupa sebilah pedang. Sedangkan Prajurit Langenarja, konon adalah kesatuan yang terdiri dari para prajurit perempuan.

Sebagai bagian dari sistem pertahanan, pada jaman dahulu, para prajurit ini diberikan tempat tinggal di seputar Benteng Baluwerti atau benteng luar Keraton Kasultanan, terutama di sebelah barat, selatan dan timur benteng. Di sebelah utara tidak ditempatkan bregada prajurit, dimungkinkan karena sudah adanya benteng Belanda, yang saat ini dikenal sebagai Benteng Vredeburg.

Tempat tinggal para prajurit itu, saat ini menjadi nama-nama kampung sesuai dengan kesatuan prajurit yang pernah menempatinya. Di sebelah barat benteng terdapat Kampung Wirobrajan, Patangpuluhan, Ketanggungan dan Bugisan. Di sebelah barat daya terdapat Kampung Daengan. Di sebelah selatan, terletak Kampung Mantrijeron, Jageran, Jogokaryan dan Prawirotaman. Sementara di timur terdapat Kampung Nyutran dan Kampung Surokarsan. Berbeda dengan yang lainnya, Prajurit Langenastro dan Prajurit Langenarja ditempatkan di dalam wilayah benteng Keraton, yang saat ini dikenal sebagai Kampung Langenastran dan Kampung Langenarjan.

Namun para prajurit Keraton yang ada saat ini, hampir semuanya tidak lagi tinggal di kampung-kampung itu.

Pada paruh akhir abad ke-18, Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki pasukan bersenjata yang cukup disegani kekuatannya. Pasukan ini terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri yang sudah dilengkapi dengan senapan api dan meriam, disamping berbagai senjata tradisional seperti pedang, tombak dan panah. Adanya pasukan ini tidak terlepas dari keberadaan para prajurit dan laskar-laskar rakyat yang menjadi pendukung setia Pangeran Mangkubumi yang di kemudian hari bertahta sebagai Sultan Hamengku Buwono I.

Menjelang berdirinya Kasultanan Yogyakarta, kekuatan bersenjata dibawah pimpinan Pangeran Mangkubumi, diakui kekuatannya saat menghadapi berbagai pemberontakan di Kasunanan Surakarta. Pasukan ini juga gigih melakukan perlawanan terhadap tentara Kompeni Belanda.

Dalam sebuah pertempuran di nJenar di wilayah Bagelen misalnya. Komandan pasukan Belanda bernama Mayor Klerck berhadapan langsung dengan abdidalem Mantrijero bernama Wiradigda. Tombak Wiradigda berhasil menusuk bahu Sang Komandan, hingga pedang marsose yang dibawanya terjatuh. Mayor Klerck kemudian mengambil pistol dan mengarahkannya ke Wiradigda. Namun pada saat yang tepat, prajurit bernama Prawirarana berhasil menusukkan tombak ke leher sang musuh hingga tewas seketika. Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1751 dan memicu trauma yang mendalam di pihak Kompeni Belanda. Tombak itu, saat ini diabadikan sebagai salah satu pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta, dengan nama Kanjeng Kyai Klerek. Pasca peristiwa Palihan Nagari yang ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada bulan Pebruari 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi 2 bagian, Surakarta dan Yogyakarta, para prajurit dan laskar rakyat pendukung setia Pangeran Mangkubumi ini, menjadi salah satu pilar penting berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Pada masa Sultan Hamengku Buwono II, kekuatan bersenjata Keraton kembali membuktikan kekuatannya pada saat menghadapi serbuan Balatentara Kompeni Inggris yang terdiri dari orang-orang Sepoy dari India, dibawah pimpinan Kolonel Gillespie. Perisitiwa ini terjadi pada tahun 1812 dan dikenal sebagai peristiwa Geger Sepoy atau Geger Spei, yang berujung dengan jatuhnya Keraton ke tangan Kompeni Inggris disertai penangkapan dan pembuangan Sri Sultan Hamengku Buwono II ke Pulau Penang.

Setelah peristiwa pendudukan Keraton oleh Balatentara Kompeni Inggris, dan sejak ditandatanganinya perjanjian politik antara Thomas Stamford Raffles dan Sultan Hamengku Buwono III pada bulan Oktober 1813, kekuatan bersenjata Keraton menyurut drastis. Dibawah pengawasan Pemerintahan Kompeni Inggris, Kasultanan Yogyakarta tidak lagi dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Personil dan sistem persenjataan dibatasi sedemikian rupa, sehingga Keraton tidak mungkin lagi untuk melakukan gerakan militer. Sejak itulah fungsi kekuatan bersenjata Keraton, tidak lebih dari pengawal Sultan dan penjaga lingkungan Keraton.

Pasca tahun 1830, Setelah berakhirnya Perang Diponegoro, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda semakin mengurangi dan membatasi kekuatan militer Keraton. Meski memiliki hampir 1000 personel dengan berbagai jenis senjata, termasuk senjata api, namun keberadaannya sungguh tidak lebih hanya sebagai atribut pelengkap dalam kehidupan tradisi dan adat isitadat Keraton.

Hingga pada tahun 1942, keberadaan kesatuan bersenjata yang berusia hampir 2 abad itu, mencapai akhir riwayatnya. Saat itu, pada masa-masa awal pendudukan Balatentara Jepang, Sultan Hamengku Buwono IX membubarkan semua kesatuan bersenjata di Keraton Yogyakarta, untuk menghindari keterlibatan para prajuritnya dalam Perang Asia Timur Raya.

Baru pada awal tahun 70-an, Sultan Hamengku Buwono IX menghidupkan kembali keberadaan pasukan tradisional ini untuk melengkapi berbagai upacara adat dan atraksi pariwisata di Keraton Yogyakarta, khususnya dalam upacara Garebeg yang diadakan 3 kali setiap tahunnya.

Oleh: Agus Yuniarso
http://khasdjogdja.wordpress.com/200...rit-keraton-1/
http://khasdjogdja.wordpress.com/200...rit-keraton-2/

0 komentar:

Poskan Komentar