ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

15 Desember 2010

Hutan Adat Wonosadi


Empat batang pohon asam jawa yang tak lagi bisa dipeluk dengan dua belah tangan berdiri kekar di titik pusat Hutan Adat Wonosadi. Terik matahari pada tengah hari, Minggu (15/6), tak berhasil menembus rimbunnya dedaunan di hutan itu. Hanya teriakan monyet ekor panjang, cicit merdu aneka burung, dan kelepak sayap ayam hutan yang sanggup memecah kesunyian. Gemericik air terdengar dari tiga sumber air mengalir melewati sela batuan dan akar pohon.


Hutan di Dusun Duren, Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, ini memiliki sejarah panjang hingga tetap bertahan di tengah maraknya konversi lahan. Kisah yang disebut warga sekitar sebagai legenda itu pula yang mampu menyelamatkan Hutan Wonosadi. Tak satu pun warga hingga kini berani mengambil kayu dan merusak aneka tumbuhan langka.
Pohon-pohon yang mati tersambar petir saja tidak akan ditebang dan dibiarkan menjadi humus.

Warga Wonosadi percaya hutan itu merupakan warisan sekaligus titipan dari nenek moyang. Alkisah, selir dari Raja Majapahit Brawijaya yang bernama Rara Resmi melarikan diri bersama dua putranya, Gading Mas dan Onggoloco, seiring runtuhnya kerajaan Hindu itu. Mereka berbaur dengan masyarakat Wonosadi, mengajar ilmu
kanuragan, dan diangkat menjadi pemimpin.

Onggoloco selanjutnya merintis berdirinya Hutan Wonosadi dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan air penduduk. Selain dikenal sebagi pertapa yang kemudian moksa atau mati dengan raga menghilang di hutan, Onggoloco terkenal lucu, jujur, sekaligus berbakat seni. Dia pula yang mengajari warga memainkan kesenian rinding gumbeng dari
Kerajaan Majapahit. Hingga kini, warga masih melestarikan seni tiup bilah bambu ini.

Secara turun-temurun, generasi tua selalu mewariskan petuah dari pendahulu mereka untuk menjaga Hutan Wonosadi. Mereka menegaskan, hutan itu hanya titipan untuk anak cucu. Jika merusak, warga percaya akan terkena karma. Menurut Ketua Penghijauan Hutan Wonosadi Sudiyo, sebagian warga sempat berupaya mencuri kayu, tetapi malah tertimpa kemalangan. SD Negeri Bejiharjo II yang dibangun dengan kayu dari
Wonosadi, misalnya, kemudian malah roboh.

Kesakralan legenda Hutan Wonosadi, lanjut Sudiyo, sempat ternoda dengan adanya penebangan besar-besaran pada 1965. Ketika hutan telah gundul, mata air tak lagi mengalir. Sejak 1966, warga secara bergotong royong kembali menanami hutan dan mata air tak pernah kering. Tradisi sadranan secara rutin digelar setiap tahun di tengah
hutan sebagai wujud syukur.

Hutan Wonosadi menempati lahan perbukitan seluas 23 hektar. Warga juga menanami lahan milik pribadi di sekeliling hutan dengan tanaman keras yang berfungsi sebagai hutan penyangga dengan luasan 25 hektar. Cukup banyak tanaman langka mulai dari anggrek hutan, aneka tumbuhan obat seperti buah birit, cendana, hingga pohon
berusia lebih dari 500 tahun bisa dengan mudah ditemui.

Kecintaan terhadap hutan terus ditanamkan ke generasi muda. Yoga Pangestu yang baru duduk di bangku kelas VI SD sering kali menemani pengunjung untuk menyusuri hutan sembari belajar mengenal aneka flora dan fauna. Padahal, untuk berjalan kaki keliling hutan dengan medan perbukitan curam dan terjal, dibutuhkan waktu hingga lebih
dari 4 jam.

Tak hanya warga sekitar yang memperoleh manfaat dari Hutan Wonosadi. Kalangan akademisi dari berbagai universitas di Yogyakarta kerap mengunjungi lokasi tersebut untuk penelitian maupun sekadar wisata pendidikan. Warga bermimpi, nantinya Hutan Wonosadi bisa menjadi museum hidup sekaligus media pembelajaran. Namun, infrastruktur jalan maupun petunjuk arah menuju hutan ini masih tidak memadai.

Jauh sebelum manusia modern mendengungkan bahaya pemanasan global, warga sekitar Hutan Wonosadi telah memiliki kesadaran tinggi dalam memelihara hutan sebagai paru-paru dunia.

Sumber: KOMPAS Jogja.

0 komentar:

Poskan Komentar