ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

15 Desember 2010

Peran Prajurit Kraton Yogyakarta Sekarang



Meskipun untuk waktu yang lama prajurit kraton tidak terlibat peperangan, akan tetapi di masa lalu prajurit ini cukup tangguh menghadapi musuh. Dalam tradisi Jawa terdapat gelar-gelar perang, yaitu formasi perang prajurit di medan pertempuran. Gelar-gelar tersebut memiliki nama tertentu seperti Supit Urang, Garudha Nglayang, Dhirada Meta, atau Glathik Neba. Gelar ini tidak hanya digunakan sesuai dengan kondisi medan dan musuh, akan tetapi juga sesuai dengan sifat dari senapati perang dalam pertempuran itu.


Dengan bergesemya peran dan fungsi Prajurit Kraton Yogyakarta dari prajurit pertahanan keamanan ke prajurit seremonial akan mempengaruhi perubahan tugas dan kewajiban Prajurit Kraton sendiri yang lebih dititikberatkan pada peran pendukung seremonial kraton, seperti upacara Jumenengan Sultan, Upacara pada saat ada yang meninggal dunia (sedan), upacara Garebeg dan tugas seremonial lain di luar Kraton. Dalam 1 (satu) tahun, Kraton Yogyakarta menyelenggarakan upacara Garebeg tiga kali, yakni Garebeg Syawal pada tanggal 1 bulan Syawal bersamaan dengan I'edul Fitri, Garebeg Besar pada bulan Dulhijah atau bulan Besar bersamaan dengan I'edul Adha, dan Garebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabi'ulawal (Mulud). Garebeg Mulud sendiri ada yang paling istimewa apabila Upacara Garebeg tersebut jatuh dalam tahun Dal, maka penyelenggaraan upacara dan peran prajurit kraton menjadi istimewa pula. Karena menurut perhitungan Kalender Jawa (Kalender Sultan Agung) lahirnya Nabi Muhammad S.A.VV bersamaan dengan tanggal 12 Mulud tahun Dal. Di samping ada tambahan Gunungan Grama (gunungan dengan kukus api) dan ada upacara "nJejak banon” (menendang dinding hingga jebol) oleh Sri Sultan Hamengku Buwono, masih ada perlengkapan upacara yang khusus hanya dikeluarkan dalam upacara Garebeg tahun Dal yang melibatkan peran prajurit kraton secara khusus pula.

Prajurit Kraton yang bertugas khusus untuk membawa pusaka-pusaka kraton pada upacara Garebeg Tahun Dal adalah pertama Prajurit Mantrijero, membawa Bendhe Kangjeng Kyai Tundhung Mungsuh dengan petugas Prajurit berpangkat Jeksa. Bendhe Kangjeng Kyai Sima dibawa oleh Prajurit berpangkat Sersan Mayor. Bendhe Kangjeng Kyai Udan Arum dibawa oleh Prajurit berpangkat Puliyer dan Dwaja (Klebet) Kangjeng Kyai Puja dengan Standar Kangjeng Kyai Cakra dengan petugas Dwajadara Prajurit Mantrijero.
Kedua, prajurit Ketanggung membawa tombak Kangjeng Kyai Slamet dengan nyamping Kangjeng Kyai Tunggul Wulung oleh Prajurit berpangkat Puliyer. Wedhung Kangjeng Kyai Pengarab-arab di dalam gendhaga dibawa oleh Prajurit berpangkat Operwahmester (Opperwachtmeester). Dwaja (Klebet) Kangjeng Kyai Puji dengan Standar Kangjeng Kyai Nenggala dibawa oleh Dwajadara Prajurit Ketanggung. Ketiga Prajurit Wirabraja membawa Dwaja (Klebet) Kangjeng Kyai Pareanom dipasang pada Standar Kangjeng Kyai Santri. Petugasnya Dwajadara Prajurit Wirabraja yang berpangkat tua.

Urutan Berjalan dalam Defile
Urutan berjalan para prajurit ketia mengikuti upacara adat di Kraton telah ditentukan. Dalam upacara Garebeg misalnya, sebagian prajurit mendahului gunungan, sebagian prajurit berada di belakang gunungan, sebagian lagi berdiri berjajar di Alun-alun, dengan urutan tertentu, menyambut gunungan dengan tembakan salvo (drel).
Dalam defile, semakin tinggi kedudukannya, semakin ke belakang. Paling depan adalah Wirabraja, paling belakang adalah Mantrijero. Ini mirip dengan yang terjadi dalam peperangan. Prajurit yang pangkat rendah dimajukan terlebih dahulu (wawancara TM, 15 Mei 2008).
Pada masing-masing pasukan, urutan prajurit juga telah ditentukan, tergantung pada cara berjalan yang digunakan.

Susunan formasi kesatuan prajurit dalam lampah rikat/mars terdiri dari Ungel-ungelan - terompet berada di depan (jika ada) diikuti dengan Panji Parentah, Standar, Senjata ngajeng, Panji II, Senjata wingking, Sersan waos I, Waos dan yang paling belakang adalah Sersan waos II. Sedang formasi dalam lampah macak diawali dengan terompet (jika ada dalam kesatuan) kemudian diikuti Panji Parentah, Standar, Senjata ngajeng, Ungel-ungelan, Panji II, Senjata wingking, Sersan waos I, Waos, dan yang paling belakang adalah Sersan waos II.

Cara berjalan dalam defile
Terdapat beberapa tipe cara berjalan yang umum dilakukan oleh para prajurit. Keistimewaan yang ada adalah pada prajurit Nyutra. Mereka harus berjalan dengan menari.
Cara Memberi Hormat
Penghormatan yang dilakukan oleh para prajurit kraton berbeda dari prajurit TNI atau tentara yang lain. Penghormatan ini dilakukan dengan setengah menari. Terdapat tiga macam penghormatan yang dilakukan oleh prajurit, yaitu penghormatan besar, penghormatan kecil, serta penghormatan sambil berjalan.

Penghormatan besar:
Untuk tombak dilakukan dari posisi pandi hastra (tombak dibawa menghormat ke posisi kinantang tunjung hastra. Untuk senapan dilakukan dari posisi cangklong tinggar (senapan dtcangklong di pundak) ke posisi hormat tinggar.

Penghormatan kecil:
Untuk tombak dilakukan dari posisi tunjung hastra (tombak dipegang) ke tombak diangkat di depan badan. Untuk senapan dilakukan dari posisi seleh tinggar (senapan dipegang) ke hormat tinggar (senapan diangkat di depan badan).


Penghormatan Kecil (Senapan)

Penghormatan Besar (Senapan)

Penghormatan Kecil (Tombak)

Penghormatan Besar (Tombak)

Penghormatan juga dilakukan sambil berjalan, dengan menoleh ke arah yang dihormati. Penghormatan dengan bendera dilakukan dengan merebahkan bendera. Jika yang dihormati adalah Sultan -misalnya ketika prajurit berjalan di Sitihinggil dan Sultan sinewaka di sana-, maka bendera direbahkan menyentuh tanah hingga terseret berjalan.

Penghormatan kepada Sultan ketika pasukan melewati Bangsal Kencana
Aba-aba penghormatan diberikan secara berurutan. Dimulai dari aba-aba perintah penghormatan dari Panji Parentah, kepada Dwajadara, Sersan Pengamping, barisan senjata 1 dan Sersan Senjata. Diikuti aba-aba Panji II, kepada barisan senjata II, Sersan waos I, kepada Jajar waos dan diakhiri aba-aba perintah penghrtmatan Sersan waos II, kepada diri sendiri.

Aba-aba dalam Keprajuritan Kraton Yogyakarta
Dahulu, aba-aba diberikan dalam campuran bahasa Jawa dan Belanda yang telah disesuaikan. Untuk pasukan tertentu yaitu Bugis, digunakan bahasa yang sulit ditelusuri artinya; barangkali adalah bahasa dari Sulawesi yang sudah terdistorsi karena sudah melalui beberapa generasi. Aba-aba itu antara lain adalah "Jarengi mana, malembuk besom. Nancongi besara. Madhinching malembuk besara. Manyak-manyaklaeki besoro. Manyak-manyak kejojoh basoro. Walmana melumpuk besom".
Akan tetapi, dengan semangat kebangsaan, - menjelang masuknya tentara Jepang ke Hindia Belanda pada 5 Maret 1942 dan khususnya ke Yogyakarta pada 8 Maret 1942 - Kraton Yogyakarta telah menyiapkan dan melatihkan Aba-aba Kaprajuritan Kraton Yogyakarta kepada para prajurit kraton waktu itu.
Setelah rekonstruksi pada tahun 1970-an, aba-aba diberikan dalam bahasa Jawa, menggunakan kata-kata yang sama untuk semua pasukan.

Aba-aba sikep baris
"Tata baris": : berkumpul dalam formasi baris (nglempak satata baris)
"Siyaga yitna" : berdiri lurus (ngadeg jejeg)
"Ngaso ngenggon" : istirahat di tempat (ngaso wonten papan)
"Rentes nganan" : lurus kanan (nyipat manengen)
"Rentes ngering" : lurus kiri (nyipat mangiwa)
"Jejeg" : kembali lurus (wangsul jejeg)
"Bubaran" : bubar bersama (bibar sesarengan)
"Ngaso" : istirahat bersama (ngaso bebarengan)
"Madhep nganan" : menghadap ke kanan (madhep manengen)
"Madhep ngering" : menghadap kiri
"Mlaku bareng" : berjalan bersama-sama
"Mlaku ngenggon" : berjalan di tempat
"Mlaku macak maju bareng" : berjalan macak bersama-sama
"Minger batik nganan" : berputar balik ke kanan (minger balik manengen)
"Minger balik ngering" : berputar balik ke kiri (minger balik mangiwa)
“Nekuk ngering" : belok dua kali ke kiri
“Nekuk nganan" : belok dua kali ke kanan
"Jangkah lumrah" : berjalan dari macak berganti ke biasa (mlampah
biasa saking mlampah macak lajeng mlampah sareng biasa)
"Maju/mundur 1,2,3 jangkah": maju/mundur 1,2,3 langkah
"Mandheg bareng" : berhenti bersama-sama
"Mandheg urut" : berhenti berurutan
"Hukur antara" : Mengukur jarak (ngukur antawis)
“Baris urut kacang" : barisan urut kacang
“Baris ngloro-ngloro" : Baris jejer dua-dua
"Noleh nganan" : hormat dengan menoleh ke kanan
“Noleh ngering" : hormat dengan menoleh ke kiri
"Hurmat/caos pakurmatan nganan”: hormat dengan menoleh ke kanan
"Hurmat ngering" : hormat dengan menoleh ke kiri
"Panji nganan/ngering" : panji ke kanan/ke kiri
"Panji mlebu barisan" : panji masuk ke barisan
"Methenteng asta" : tangan kiri di pinggang.

Aba-aba untuk prajurit mulai mlampah macak:
'Mlampah macak maju bareng..”: (suling berbunyi bawa) ... (tambur berbunyi
hingga pada disambut aba 'Gya")
"Mlampah macak maju bareng..”: (tambur berbunyi ropel) ... (suling berbunyi
bawa dilanjutkan dengan bendhe besar
disertai aba "Gya")
"Mlampah macak maju bareng.,: (trompet berbunyi)... (tambur berbunyi
ropel)... (disambut suling bawa diteruskan bendhe besar disertai aba "Gya")

Aba-aba Sikep Dedamel
Sikep Sabat/pedhang
"Tarik pedhang” : pedang dihunus
"Hurmat pedhang" : hormat dengan pedang
“Pandi pedang" : pedang dipanggul
"Nyarung pedhang" : pedang disarungkan

Sikep Senjata
'Nyangklong tinggar" : senjata dicangklong
"Hurmat tinggar" : hormat dengan senjata
"Seleh tinggar' : menurunkan senjata
“Cangking tinggar" : senjata dibawa
“Nyipat" : meluruskan
“Drel" : drel (senjata dibunyikan)
"Buwang patrum' : peluru dikeluarkan.

Sikep Waos (tombak)
'Pandi hastra" : tombak dipanggul
"Kinantang tunjung hastra” : hormat dengan tombak
"Tunjung hastra”/”goyang tunjung hastra" : tombak diturunkan
'Maniyung hastra' : tombak dicondongkan
'Manlawung hastra" : tombak di-lawung
"Mbuntar hastra" : tombak dibawa [cangking)
'Nylimpet balik” : melangkah bersilang balik
"Nylimpet balik tunjung hastra/pandi hastra" : melangkah bersilang balik,
dilanjutkan tegak /memanggul tombak
"Maju ndhadhap" : melangkah ke depan dengan mendhak
"Mundur ndhadhap' : berjalan mundur dengan mendhak dilanjutkan
tegak, tombak dipanggul (pandi)
"Kumpul hastra" : tombak dikumpulkan

Sikep Towok
"Junjung towok” : towok diangkat
"Turun towok" : towok diturunkan
"Maniyung towok” : towok dicondongkan
"Kinantang wusti towok” : hormat menggunakan towok
"Gantang towok" : menurunkan towok dilanjutkan tegak

Aba-aba ungel-ungelan/kalasongka
'Siyaga kalasongka' : tambur, ketipung, dhodhog dicangklong; bendhe,
suling, dan sebagainya dibawa
"Nembang tengara" : rapel apel
"Tengara manggala" : penghormatan terhadap Manggala
"Ngumpul sajuru-juru" : menuju ke bregada/pasukan masing-masing
“Hampil kalasongka" : membawa alat musik

Aba-aba hormat
'Warasta kalasongka hurmat": hormat menggunakan dedamel (peralatan)
dan bunyi-bunyian. Dwaja termasuk dedamel
"Kinantang tunjung hastra” : hormat besar menggunakan tombak
“Hurmat tinggar” : hormat menggunakan senapan
“Kinantang wusti towok" : hormat dengan towok
"Hurmat pedang" : hormat dengan pedang
"Rubuh dwaja" : hormat dengan merebahkan bendera
“Hurmat” : hormat dengan menoleh ke kin atau kanan
saat berjalan

Aba-aba bersama untuk semua jenis peralatan
"Mbujangso warasta": tombak dan pedang dipanggul, towok diangkat,
senapan dicangklong.

Aba-aba sikep dwaja
"Rubuh dwaja" : hormat menggunakan bendera
"Ngadeg dwaja" : bendera ditegakkan
"Pundi dwaja" : bendera dipanggul
"Turun dwaja" : bendera ditegakkan, seperti waos tunjung hastra.



Tugas Prajurit Kraton Yogyakarta
Secara umum, tugas prajurit Kraton seperti terlihat pada masa Sultan Hamengku Buwono I adalah melakukan pengamanan kraton, pengawalan terhadap Sultan yang sedang berada di luar kraton, pengawalan terhadap pejabat VOC yang sedang berkunjung atau tamu agung lain.
Setiap kelompok prajurit memiliki tugas yang berbeda. Bregada Mantrijero bertugas sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya upacara jumenengan di Sitihinggil. Dalam pengamanan kraton, pasukan Bugis bertugas menjaga gerbang Tarunasura dan Jagasura, pasukan Surakarsa menjaga gerbang Nirbaya dan Jagabaya. Tugas yang dilakukan prajurit adalah membuka dan menutup pintu gerbang, juga menaikkan dan menurunkan jembatan gantung.

Akan tetapi, pada masa Sultan Hamengku Buwono V hingga VIII, prajurit kraton hanya berfungsi seremonial. Mereka bertugas dalam upacara meskipun masih bertugas mengawal serta menjaga benteng.
Jika terdapat keluarga Sultan yang meninggal, pasukan prajurit merupakan atribut yang diberikan oleh kraton. Seseorang disebutkan "mendapat Bugis dan Surakarsa", atau GKR Pembajoen (putri sulung Sultan Hamengku Buwono VIII) "mendapat lima bendera" (wawancara NJ 15 Mei 2008).

Pada masa Sultan Hamengku Buwono X, para prajurit bertugas dalam upacara-upacara yang diadakan oleh kraton. Di samping itu terdapat kegiatan rutin berkaitan dengan keamanan kraton, yaitu caos atau rondha. Prajurit juga memiliki tugas dalam pariwisata. Selain itu, bertugas pada kegiatan-kegiatan temporer seperti jumenengan, sedan (kematian), pengantin, atau menyambut tamu.

Dalam fungsi seremonial, prajurit hadir dan memiliki peran dalam upacara. Upacara-upacara tersebut adalah Garebeg, jumenengan, serta kematian. Masing-masing pasukan mempunyai peran tersendiri dalam setiap upacara.

Dalam upacara Garebeg, sebagian pasukan bertugas mengantar gunungan hingga ke halaman masjid, sebagian lainnya -yaitu Wirabraja- jika tahun Dal, berbaris satu-satu (sesiyungan) di luar regol masjid.


*Sumber : Buku Prajurit Kraton Yogyakarta, Filososfi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, 2008.

0 komentar:

Poskan Komentar