ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

14 Desember 2010

Petilasan Pesanggrahan Ambarketawang

Sebuah desa ditepian Jalan Wates, tepatnya di desa Ambarketawang, kecamatan Gamping, terdapatlah sebuah tempat, yang orang-orang sekitar sering menyebutnya petilasan Pesanggrahan Ambarketawang, pesanggrahan itu digunakan menjadi kraton/istana pertama Ngayogyakarta Hadiningrat selama setahun, dari 9 Oktober 1755 hingga 7 Oktober 1756.

Arah menuju petilasan/tempat itu, dari perempatan Kantor Pos Besar ke arah barat terus melaju terus hingga
pertigaan pertama setelah Pasar Gamping dan berbelok ke kiri. Lalu berbelok ke kiri lagi setelah menemukan papan penunjuk kecil yang menerangkan arah untuk menuju Pesanggrahan Ambarketawang.

Ketika memasuki area tersebut Anda akan di sambut oleh tembok besar, yang ternyata merupakan tembok terdepan dari pesanggrahan ini, sementara areal kosong di sebelah timur tembok tersebut merupakan pintu gerbang menuju bagian dalam pesanggrahan. Pekarangan di sebelah selatan tembok yang kini ditumbuhi pohon-pohon besar merupakan bekas alun-alun pesanggrahan, sedangkan tembok di sebelah selatan pekarangan itu merupakan bekas kandang kuda.

Tak jauh dari tembok terdepan, terdapat sebuah sumur bertuah. Air dari sumur yang berusia sama dengan Pesanggrahan Ambarketawang ini konon mampu menyembuhkan beragam penyakit. Menurut cerita, pernah ada seorang lumpuh yang mandi dengan air sumur ini dan akhirnya sembuh seketika. Hingga kini, air sumur ini masih digunakan oleh warga setempat, terutama bila ada salah satu anggota keluarga yang sakit.

Kalau cermat, tepat di sebelah kiri sumur terdapat susunan batu bata yang hampir sejajar dengan tanah. Susunan batu bata itu merupakan bagian atas dari saluran bawah tanah, sering disebut urung-urung, yang memanjang ke utara sekitar 6 meter. Kalau merunut ke utara, anda bisa melihat susunan batu bata serupa yang merupakan ujung dari saluran bawah tanah yang bisa dilewati manusia ini.

Masih di areal yang berdekatan, Anda dapat menjumpai bangunan semacam lantai bersemen yang telah berlumut, bangunan itu merupakan bagian dari bangunan lantai atas pesanggrahan ini. Bahkan, bangunan itu merupakan satu-satunya bangunan lantai atas istana yang masih bisa dijumpai sebab bangunan lantai atas lainnya telah hilang dan bangunan lantai bawahnya hingga kini tertimbun tanah.

Selain beberapa bagian bangunan pesanggrahan, terdapat pula bangunan baru berupa pendopo. Beragam aktivitas kesenian Jawa berlangsung di pendopo itu, seperti Macapat yang dilaksanakan setiap Kamis Pahing dan pencak silat yang dilaksanakan setiap hari Selasa. Tembang macapat yang dinyanyikan pada saat pertunjukan biasanya bercerita tentang terbaginya kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, seperti tertulis dalam Babad Giyanti.

Puas berkeliling di areal itu, kami menyusuri jalan setapak di pinggir sawah hingga beberapa puluh meter ke utara. Di sana, kami menemukan bagian lain dari bangunan pesanggrahan, berupa tembok yang berbatasan langsung dengan makam. Tembok tebal yang kini warnanya juga sudah menghitam itu dipercaya merupakan tembok belakang bangunan pesanggrahan yang dahulu memanjang ke barat dan timur.

Sumber : http://my.opera.com/septiyadi05/blog/show.dml/1977721

0 komentar:

Poskan Komentar