ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

15 Desember 2010

Desawarnana: Nama Asli Nagarakretagama

dasawarnana 

Filolog Prof. Dr. Stuart Robson dari Monash University mengungkapkan, Nagarakrtagama bukan Negarakertagama, yang mendapat pengakuan sebagai Memory of the World dan sertifikatnya diterima Kepala Perpustakaan Nasional RI Dady P Rachmananta dari UNESCO, serta bukan judul atau nama asli yang diberikan Mpu Prapanca. Nama asli yang diberikan Mpu Prapanca adalah Desawarnana.

Mpu Prapanca memakai nama asli Desawarnana yang berarti deskripsi daerah-daerah karena isi teks bagian
yang penting dari karya itu memuat tentang hal-hal tersebut. Meski demikian, sejarawan di Indonesia dan di luar negeri terlanjur mengenal karya sastra agung sebagai Negarakertagama,” kata Stuart Robson pada acara talk show yang pernah diadakan di Perpustakaan Nasional.

Robson yang 40 tahun lebih meneliti teks-teks Jawa Kuno menjelaskan, Nagarakretagama adalah karya luar biasa yang tidak ada bandingannya. Bahkan, boleh disebut unik dalam khazanah sastra Jawa Kuno, baik bahasa maupun isinya.

Bahasa Jawa Kuno yang ada pada Nagarakrtagama sulit dipahami oleh penutur bahasa Jawa sekarang karena ia bukan bahasa Kawi yang terdapat dalam karya klasik Jawa seperti karangan Ranggawarsita pada abad ke-19. Bahasa Jawa Kuno yang dituturkan Mpu Prapanca lebih tua lagi.

Robson yang menguasai bahasa Jawa Kuno juga mengungkapkan, Nagarakrtagama dibagi atas 94 pupuh (canto), ditambah empat lagi yang tidak ada kaitannya, yang diselesaikan pada 30 September 1365. Robson juga mengungkapkan bahwa, Mpu Prapanca tidak mengarang kakawin ini sekaligus. Beliau memakai catatan mengenai perjalanan raja yang dibuat tahun 1359, lalu karangannya ditambah sedikit demi sedikit.
Ternyata Nagarakrtagama bukan satu-satunya karangan Prapanca. “Masih ada karya lain, yaitu Sakabda, Lambang, Parwasagara, Bhismasarana, dan Sugataparwa, dengan catatan bahwa Lambang dan Sakabda digarap kembali, ditambahi dan belum selesai,” paparnya.

Filolog Monash University ini banyak mengatakan, Nagarakrtagama sebagai karya sastra dengan tujuan tertentu tidak boleh dianggap obyektif sama sekali. Ia tidak dikarang dengan maksud supaya dijadikan tambahan data untuk sejarawan, tetapi pasti mengandung informasi luar biasa banyak tentang negara Majapahit pada puncak kemegahannya.

Fakta geografi dapat dilihat lewat peta; data arkeologi dapat diteliti melalui peninggalan; tapi di pihak lain dalam bidang sejarah dinasti, misalnya, juga ada pengakuan atau klaim yang sifatnya tak mungkin diperiksa lagi.

Sumber Tulisan
http://cetak.kompas.com/ dan http://apit.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar