ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

2 Desember 2010

Candi Waringin Lawang



Gapura Waringin Lawang atau Candi Waringin Lawang terletak di wilayah administrasi Dukuh Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini bukanlah pintu gerbang keraton Majapahit yang diyakini beberapa pihak selama ini, sebab berdasarkan hasil penelitian dan ekskavasi di Trowulan bangunan ini diduga memang merupakan sebuah Gapura untuk masuk kedalam kompleks kota Majapahit yang berkesesuaian dengan fungsinya sebagai Gapura Bentar yang sering digunakan sebagai tempat penyambutan tamu resmi kerajaan Majapahit. Jika kita memasuki kompleks bangunan tersebut hal itu berarti kita menuju luar kompleks.
Jika gapura Waringin Lawang adalah
Gapura pusat keraton Majapahit tentunya jarak bangunan satu dengan yang lainnya berjauhan, minim bisa dilewati 2 kereta kuda sekaligus dan tentunya kita akan berpikir dimana posisi para pejalan kakinya bukan, selain itu undak-undakan anak tangga tentunya khusus pejalan kaki, dengan demikian untuk seukuran keraton Majapahit yang kekuasaannya sampai di daerah kamboja sedikit aneh memiliki gapura sekecil itu untuk ukuran cakupan daerah kekuasaan.
Gapura Waringin Lawang ini adalah tapal batas Negoro dengan Monco Negoro. Ilustrasinya sebagai berikut, suatu saat ada ada tamu raja yang hendak ngabulu bhekti atau melaporkan hal penting, tentunya proses ini tidak berjalan cepat seperti halnya sekarang kita naik mobil, laporan selesai, bayangkan aman itu sekelompok orang menaiki kereta dari jauh bersama para pengikutnya ada yang naik kuda ada juga yang jalan kaki, jika hal itu kita gambarkan betapa ributnya saat itu untuk sebuah kompleks Trowulan yang dihitung sebagai kompleks kerajaan dengan ukuran 9×11 km, bagaimana ketika itu ada upacara besar di mana dihadiri semua raja telukan, sehingga pertanyaannya adalah para tamu akan menginap di mana dan berapa besar kapasitas yang dibutuhkan saat itu.
Gapura Waringin Lawang juga sebagai tempat penyambutan resmi dan jalan utama pemberkatan saat Raja keluar dan kembali dari Monco Nagari, hal ini didukung data dengan adanya undak-undakan atau tangga di gerbang tersebut, dengan demikian tidak semua orang diperkenankan memasuki tempat diantara kedua bangunan tersebut, dan tentunya disamping-samping gapura tersebut terdapat jalan yang lebar dengan struktur sama modernnya dengan teknik pembuatan gapura tersebut. Perlu dicatat, Gapura Waringin Lawang tidak seperti yang kita lihat atau kita bayangkan saat ini, bahwa material bagunan tersebut terbuat dari batu bata yang proses pembuatannya jauh berbeda dari sekarang, dalam proses pembuatan itu meliputi pemilihan tempat sumber tanah liat yang diambil, kemudian pengayaan sampai selembut tepung, pencetakan, sedangkan pembakaran juga jauh lebih rumit karena warna batu bata menuntut warna yang sama, maka kita tidak melihat adanya warna gosong di salah satu permukaannya. Setelah batu bata jadi proses berikutnya adalah proses penyatuan batu bata menjadi struktur candi yang meliputi penggosokan satu sama lain sehingga resiko perembesan air benar-benar diperhatikan, dan penyatuannya menggunakan campuran beberapa bahan alam antara lain putih telur dan tetes tebu (unsur lain belum diketahui) sehingga mengapa kebanyakan kompleks percandian sekelilingnya adalah sawah sehingga pengadaan telur bebek sangat mudah, dan tebu pun juga mudah dalam penanamannya. Perlu juga diketahui tebu bukanlah tebu yang seperti kita pakai sekarang, melainkan tebu lokal yang batangnya sebesar jari jempol tapi kandungan gulanya jauh lebih besar dengan tebu yang dibawa Belanda pada masa tanam paksa.
Pada bangunan gapura kalau dari sisi luar kita melihat ada gapura kecil menempel di bangunan induk, itupun memiliki makna khusus , gapura kecil digambarkan sebagai gerbang yang dimiliki rakyat dan ada yang jauh lebih besar yaitu milik raja, dengan demikian arti yang terkandung adalah kebijaksananaan Raja jauh lebih besar dari pada kekuatan rakyat, namun demikian rakyat seutuhnya di bawah perlindungan kekuatan dan kebijaksanaan Raja, maka berhati-hatilah orang luar yang mencoba mengganggu ketentraman rakyat Majapahit. Sementara tembok luar ada sisi polos, dahulu merupakan tempat ditempelkannya lambang-lambang keagungan Kerajaan yang terbuat dari logam kuningan, sementara itu keseluruhan bangunan dilapisi cairan bening yang mengkilap seperti akrilik.
Dalam tulisan Raffles History of Java I, 1815, Candi Waringin Lawang disebut dengan nama “Gapura Jati Paser”, sementara berdasar cerita Knebel dalam tulisannya tahun 1907 menyebutnya sebagai Gapura Wringin Lawang.
Candi Waringin Lawang termasuk tipe ‘Gapura Belah’ atau ‘Bentar’, yaitu gapura yang tidak memiliki atap. Gapura seperti ini biasanya berfungsi sebagai gerbang luar dari suatu kompleks candi atau kompleks bangunan lainnya. Sesuai dengan bentuknya, Gapura Waringin Lawang tentunya mempunyai fungsi yang sama dengan fungsi candi bentar.
Candi Waringin Lawang keseluruhannya terbuat dari bata merah dengan arah hadap timur-barat, bentuk dasar denahnya segi empat dengan ukuran panjang 13 meter, lebar 11.50 meter dengan tinggi 13.70 meter, jarak antara gapura 3,5 m (sebelum dipugar gapura sisi selatan masih utuh mempunyai tinggi 15.50 meter, sedangkan sisi utara masih tersisa 9 meter). Saat penggalian sebelah utara dan selatan ditemukan tumpukan bata diperkirakan merupakan tembok yang mengelilingi gapura tersebut. Di sebelah barat daya ditemukan 14 titik sumur berbentuk silindrik dan kubus
Gapura tersebut ditemukan pada tahun 1912 pada saat ditemukan kondisi sebagian tubuh dan puncaknya telah hilang tetapi setelah dipugar kembali sekrang sudah kembali utuh tetapi bentuk gapura nya tidak sama.
Gapura Wringin Lawang didirikan pada abad ke-14 Masehi. Pemugaran Gapura Wringin Lawang dilaksanakan sejak tahun 1991 dan selesai tahun 1995.

Sumber : diolah dari http://badailautselatan.multiply.com/journal/item/52 dan http://www.kebudaya.cc.cc/s1p_Candi_Waringin_Lawang_250729 dan beberapa sumber lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar