ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

16 Februari 2011

Supersemar Tanpa Kebo No

    Oleh : Muhammad Ainun Nadjib


 Di Indonesia banyak orang dahsyat, sejak dulu hingga sekarang. Bangsa Indonesia banyak melahirkan orang besar, pada setiap era sejarahnya sampai hari ini.

Meskipun demikian ada beda serius antara orang
besar, wong gedhe, dengan wong agung, atau manusia agung. Orang besar dikenal luas oleh masyarakat clan menempati lembaran-lembaran terpenting dalam buku sejarah. Karena tanda kebesarannya harus berkaitan dengan orang banyak, terutama dalam bentuk pengaruh atau kekuasaan. Orang besar berkapasitas horisontal. la merambah, menembus, merangkum, dan terkadang mencengkeram sampai radius yang amat luas. Yang menyentuh orang darinya adalah kekuatan, kegagahan, kepandaian, kecanggihan dan kemenangan.

Sementara wong agung berkualitas vertikal. Yang kental pada kepribadian kemanusiaannya adalah kearifan, kebijaksanaan, ketulusan, kesantunan dan ke-mengalah­an. Dan memang itulah muatan-muatan keagungan nilai seseorang. Mungkin karena itu manusia macam ini tidak begitu dikenal. la dikenang oleh tidak banyak orang, dikagumi diam-diam di dalam batin.

Mahatma Ghandi adalah wong agung. la penganjur perdamaian, kemandirian dan ketidakmubadziran. la dikagumi oleh dunia Timur maupun Barat, tapi popularitasnya hanya dalam batin. Ajaran-ajaran dan uswatuh hasanah (suri tauladan) perilaku hidupnya tidak akan dipraktekkan oleh kebanyakan orang, karena Gandhiisme pada hakekatnya melawan watak industrialisme kapitalistik yang menekankan dirinya pada konsumtivisme massal.

Kalau orang sedunia patuh dan mem-panutan-i Gandhi, maka sifat berputarnya uang serta tingkat omset perekonomian di bumi akan terombak habis-habisan. Perusahaan­perusahaan multinasional akan kehilangan relevansi pasarnya. Jalanan jalanan protokol di kota-kota besar akan tidak demikian bentuknya. Pertokoan dan supermarket akan berisi barang-barang yang lain sama sekali, bahkan mungkin tidak ada etalage-etalage industri seperti yang sekarang menjadi "ka'bah" ummat manusia sedunia.

Bahkan, dengan Gandiisme, atau dengan `Allah-isme' versi Muhammad (Nabi yang ogah jadi raja, yang kasurnya pelepah korma dikeringkan, yang sering kelaparan dan mengganjal perutnya dengan batu, yang ketika wafat masih punya hutang beberapa liter gandum) (bukan Muhammadenism sebagaimana kaum orientalis menyebut, sebab Muhammad tidak memiliki ajaran apa-apa, ia hanya kurir Allah), perilaku dan sistem politik negara-negara dunia akan berbeda sama sekali. Orde internasional dan kebudayaan makhluk bumi akan memiliki wajah yang sama sekali tidak seperti yang sekarang kita alami dengan gundah.`Suku cadang' orang besar bersifat lebih `fisik'. Pada masyarakat tradisional ia mungkin kekuatan tubuh, keahlian berkelahi, kesaktian, aji-aji, pusaka -- yang terakhir ini kita ketahui punya akses terhadap kekuasaan politik. Pada masyarakat modern factor-aktor itu mungkin tetap juga diperlukan; tapi yang lebih penting adalah kecanggihan, kelihaian, kelicinan dan mungkin juga kelicikan untuk memproses peralihan kekuasaan serta kemudian kecanggihan untuk mempertahankannya. Strategi `kebesaran'nya bukan hanya berupa kesanggupan memanage setiap potensi kekuatan dan kekuasaan. pendayagunaan asset-asset -- massa, militer, perekonomian, dukun, segmen-segmen primer dalam hukum perubahan dst -- tapi juga kepandaian dan kejelian sebagai sutradara sejarah.

Orang besar modern adalah tokoh yang bukan saja sakti secara pribadi. la juga harus menguasai dan mengatasi segala wawasan. la harus mengerti kebudayaan meskipun dalam strateginya la tidak mengambil peran sebagai budayawan. la hams menguasal cakrawala kenegarawanan meskipun la justru menahan dirinya untuk - demi kebesaran kekuasaannya - tidak menjadi seorang negarawan. la harus paham betul lika-liku keagamaan meskipun past] la tidak akan memakai surban status ketokohan agama. la mengetahui apa saja yang diperlukan untuk proses penyutradaraannya.

Orang besar modern bukan saja harus khatam soal segala jenis ilmu peperangan, ia bahkan harus tahu persis hal-hal tentang maling clan pencurian. Pada suatu saat ia bisa mengerahkan maling untuk melakukan suatu operasi pada momentum clan dengan konteks serta sasaran tertentu, agar di hari esoknya la bisa tampil sebagai pahlawan yang mengatasi maling yang ia sendiri yang mengerahkan. Atau la memerintahkan `X' kepada seorang maling dan menyuruh `Y' kepada maling yang lain, kemudian la tampil sebagai juru damai. Itu sekedar sebuah contoh: ada beribu contoh taktik dan strategi kekuasaan clan kebesaran yang masing-masing kita bisa menyebutnya.

Orang besar bisa memelihara kebesarannya karena semua komponen sejarah yang telah tergenggam di tangannya akan secara otomatis merupakan faktor pendukungnya, sengaja atau tak sengaja, rela atau mendongkol. Perjalanan orang besar adalah perjalanan snow balling. Sepanjang ia sanggup memelihara momentum, mengatur irama clan suhu, peka terhadap takaran dosis dari suatu rakayasa, maka semua faktor yang ada dalam kekuasaannya akan secara dialektis menjadi pengawet kekuasaannya.

Orang besar tidak harus menumpas orang-orang yang melawannya, karena penumpasan adalah suatu jenis kekuasaan yang temporer clan terlalu pragmatis, namun tidak investatif ke depan. Orang besar Jawa bisa mengantisipasi hal ini dengan filsafat mangku. Dan in] adalah ajaran paling baku dalam filosofi clan budaya kekuasaan Jawa: bukan nama raja-raja itu Mangkunegoro, Hamengkubuwono, Mangkubumi. Dan strategi mangku ini dengan gampang diterapkan dengan mendistribusikan modal dan kekuasaan, yang keseluruhannya akan pada akhirnya bermuara kembali ke tangan si orang besar.

Berabad-abad lamanya tokoh-tokoh sejarah Jawa khususnya dan Indonesia umumnya belajar menghayati filosofi ini. Ken Arok misalnya, sebagai contoh orang besar dari masa silam sejarah kita, meskipun berhasil menerapkan pasal-pasal terpenting dari peralihan dan pemeliharaan kekuasaan -- namun masih tergolong brangasan, kurang mengenal kehalusan kekuasaan, clan tidak bisa disebut strategi ulung jika acuannya adalah kelanggengan kekuasaan dalam jangka waktu yang jauh ke depan.

Ken Arok sukses merintis karirnya, pertama-tama sebagai orang desa clan anak petani yang belajar menapak. la berguru kepada tokoh sakti yang darinya bisa ditimba segala kesaktian yang diperlukannya untuk melaksanakan cita-cita menjadi KS-1 alias the number one person ofSingosari. la melirik pusat sumber kekuasaan -- bukan menguasai partai politik terbesar clan media massa -- melainkan mendatangi empu pembuat keris yang paling sakti untuk memesan sebilah keris. Pemilikan keris dengan kapasitas kesaktian tertentu, Anda tahu, secara tradisional bukan sekedar lambang teraihnya kekuasaan, tapi juga sepenuhnya dipercaya sebagai inti `wahyu' kekuasaan pada pemegangnya.

Kemenangan demi kemenangan, keunggulan demi keunggulan lantas Ken Arok dapatkan, tapi juga blunder demi blunder, yang kelak dia tanggung resikonya - misalnya - berupa kematian yang terlalu cepat. Bahkan kemudian disusul oleh sejumlah kematian dengan sebab clan dalam konteks yang sama: dendam.

Seandainya Arok menempuh suatu strategi yang berbeda, yang lebih licin clan tak kentara pada setiap jengkal proses perjuangan kekuasaannya, mungkin kematian itu tak harus terjadi. Tapi la terlanjur memilih itu, atau barangkali Ken Arok memang tidak memiliki kebesaran mental clan hati dingin untuk bisa melaksanakan modus-modus penguasaan yang lebih canggih. la tidak cukup sabar menunggu `sempurnanya sepuhan keris' • artinya tidak bersabar menunggu matangnya ritme rekayasanya sendiri. la kemudian menggunakan `keris tak matang' itu untuk menikam kekuasaan dan menyiapkan kambing hitam yang bernama Kebo Ijo. Akhirnya la merebut Ken Dedes, sang `Ibu Pertiwi' yang masih segar clan menggiurkan untuk digenggamnya.

Strategi perekayasaan Kebo Ijo itu lazim menjadi tradisi dalam berbagai praktek kekuasaan pada rezim-rezim sesudah itu. Bahkan la dimodifikasikan secara lebih canggih clan memakai perangkat-perangkat yang jauh lebih variatif pada zaman Indonesia modern. Sampai-sampai ada riwayat kontemporer di mana Kebo Abang dipecundangi dengan cara mengkili-kill telinga Kebo Ijo sehingga yang terakhir ini mengamuk clan menumpas rekannya sendiri meskipun warna kulitnya memang berbeda.

Eksplorasi Ken Dedes juga berlangsung hingga di zaman modern. Kita mengalami zaman di mana potensi kecantikan, keindahan clan kekayaan `Ken Dedes' dibiarkan terbengkalai. Kemudian kita alarm zaman berikutnya di mana keindahan Ibu Pertiwi yang mencorong ini disinggasanakan di kursi `stabilitas nasional', diolah dengan mendatangkan modal clan grup perias dari mancanegara, dikomoditikan clan dijadikan lahan kapitalisasi dan industrialisasi yang keuntungannya menggumpal di sekitar Ken Arok.

Artinya, banyak dimensi bisa dipelajari clan dianut dari sejarah Ken Arok. Termasuk bagaimana mempelajari kesalahan-kesalahannya, umpamanya jangan sampai kita memproses kekuasaan dengan cara yang frontal, brutal clan gemagah seperti itu. Karena pada suatu hart, ketika giliran cakramanggilingan tiba, kita juga tidak ingin memperoleh tikaman sebagaimana Ken Arok melakukannya.

Dalam hal ini orang sangat mempercayai, tampaknya sampai hari Jim, bahwa apa yang disebut hukum karma akan berlaku, terutama pada soal-soal serius yang menyangkut kekuasaan. Apalagi jika terkait juga dengan darah, penderitaan, kekalahan clan hilangnva nyawa. Tidak usah diperdebatkan secara khusus hal karma ini, karena seandainya yang sedang menjadi pelaku kekuasaan itu beragama Islam misalnya, maka la juga akan cenderung percaya kepada rumus "wa man ya mal mitsqala dzanotin khoian ywoh, wa man ya'nial mitsqala dzarrotin syarron yaroh ": siapa saja yang melakukan kebaikan atau keburukan sedebu sajapun, nanti la akan memperoleh hal yang sama.

Seandainya, dengan kesaktian batinnya, Ken Arok sanggup menyelenggarakan semacam time tunnel -- mestinya la bisa belajar ke masa depan. Sekurang-kurangnya untuk menghindarkan "kutukan tujuh turunan" seperti yang dirintisnya. Atau barangkali ia telah melakukannya, tapi berhenti pada Panembahan Senopati, sehingga kesimpulan yang diperolehnya tidak cukup matang.

Mungkin la melihat bagaimana Raden Wijaya merintis kekuasaan juga dengan kelicikan, tapi toh la berjaya sampai wafat alamiahnya. Kerajaan Majapahit kemudian bahkan menjadi monumen terbesar kesejarahan bangsa ini clan disepakati sampai akhir zaman sebagai cikal bakal negara yang sekarang bernama Indonesia Raya. Malahan Raden Patah yang sebenarnya cukup santun bersikap kepada ayahnya -- Brawijaya terakhir yang bahkan bersedia potong rambut dan melakukan kllitan -- selama peralihan kekuasaan ke Demak, malah tidak cukup langgeng kekuasaan anak turunnya.

Kemudian la juga menyaksikan ketidakmulusan Sultan Trenggono dan cara peralihan agak kurang fair - menurut kerabat Penangsang -- yang menaikkan Mas Karebet menjadi Raja Pajang, hams dibayar oleh anak dusun penakluk kerbau clan raja buaya ini dengan akting peralihan kekuasaan ke Mataram secara cukup mulus; meskipun dalam sejarah la disebut dikalahkan oleh anak angkatnya yang kemudian mendirikan Kerajaan Mata'ram. Lantas disaksikannya juga bagaimana Panembahan Senopati yang sebenarnya agak nranyak itu lestari pula kekuasaannya.

Barangkali itu yang membuat Ken Arok tak ambil pusing dengan mitos macam­macam, sehingga disikatnya saja Gandring clan Tunggul Ametung. Kalau saja Arok cukup arif clan berpikir strategis, tentu ia akan ber-time tunnel lebih jauh ke depan: boleh saja ia tetap menghimpun Kebo ijo-Kebo Ijo untuk berbagai kepentingan. Tapi la hams mempelajari psikologi Supersemar, mendalami rekayasa yang menggunakan `kearifan retoris' yang samar clan buku-buku sejarah tidak mampu mencatat kecuali segi baiknya.
Tapi akan afdhal lagi kalau Ken Arok berani mengambil keputusan untuk tidak usah menjadi orang besar, tapi lebih memilih jadi wong agung. la bikin Supersemar tapi sungguh-sungguh demi kepentingan rakyat, menghindarkan Kebo Ijo clan memusatkan kerjanya tidak pada kemenangan clan kekuasaan, melainkan pada kebahagiaan rakyatnya clan keagungan kepribadiannya.

Atau mungkin sekali Ken Arok justru paham sepenuhnya bahwa di zaman modern, yang namanya kearifan itu mirip kebodohan, kesantunan itu sok, perjuangan murni kerakyatan itu naif, clan kenegarawanan atau apalagi keresian itu mubadzir.

0 komentar:

Poskan Komentar