ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

16 Februari 2011

Abdul Mungkar wa Shohibul Makar


Oleh : Muhammad Ainun Nadjib
Seandainya tulisan yang Anda baca ini adalah `Washington Post' atau `New York Time', maka yang saya tuliskan bagi para pembaca seharusnya berjudul "Dinasti It, Ceplok Bokor Emas Berlian dan Klambi Taqwa".
Ada ahli sejarah yang menggunakan metoda khusus dan menyimpulkan bahwa Majapahit bukanlah kerajaan pasca Singosari-­Kediri. Kerajaan
yang didirikan oleh Raden Wijaya di Trowulan itu hanyalah awal dari kurun rangkaian sejarah kerajaan-kerajaan it, sesudah kurun ma, 1antas ja dan kemudian pa.
Kurun dinasti it itu belum selesai sampai hari ini, meskipun alur regenerasinya dipenuhi pergantian demi pergantian hasil konflik antar orang-orang berdarah biru. Terkadang orang yang hanya setengah biru. Atau bisa juga orang yang membiru-birukan dirinya. Atau paling tidak membirukan anaknya. Misalnya, minimal, untuk kepentingan perlidungan masa depan, karena ‘lingkaran darah biru’ memiliki kadar mitologi yang sangat tinggi dan mendalam dalam peradaban suatu masyarakat, sehingga sukar ditembus dan diserang.
Hal terakhir inilah yang memiliki salah satu ornamen cerita yang berkaitan dengan ceplok bokor yang bukan terbuat dari kembang­-kembang natural, melainkan dari emas dan permata yang mengimitasikan kembang alam tersebut. Juga berhubungan dengan dipersyaratkannya pelanggaran atas adat klambi taqwa.
Ini bukan klenik bukan tahayul, dan siapapun yang belum tahu atau tidak pernah mengenal wacana untuk mengenali fenomena semacam ini – hendaklah mengupayakan berbagai sumber informasi agar tahu, agar tidak terlalu tergesa-gesa berkomentar atau menilai berdasarkan kebingungan dan prejudais.
Esei ini sebenarnya bisa berkembang menjadi cerita ketoprak yang sangat menarik. Dan media massa bisa berbulan-bulan mengulitinya untuk laporan utama dengan segala illustrasinya yang sangat kaya.
Sangat banyak rahasia besar yang semestinya diketahui oleh khalayak ramai, kalau memang diperlukan kebenaran-kebenaran mengenai informasi di belakang berita-berita yang dimuat oleh media massa.
Tetapi kita hidup di suatu zaman di mana cahaya kebenaran seringkali justru berada di dalam kegelapan. Bahasa gampangnya: informasi yang sesungguhnya tidak mungkin diinformasikan. Maka setiap orang, terutama yang tidak berkuasa, harus selalu menyiapkan dua hal.
Pertama, kalau Anda adalah konsumen berita: siapkan kecerdasan ekstra untuk menghitung apa yang sebenarnya terjadi di balik berita-­berita yang sudah sangat dibatasi, baik dibatasi oleh iklim kekuasaan, maupun dibatasi oleh para pembuatnya sendiri.
Kedua, kalau kebetulan Anda menjadi sumber berita dan Anda tergolong bukan orang berkuasa melainkan pihak yang media massa tidak takut apapun terhadap Anda – maka siapkan kesabaran dan keikhlasan ekstra untuk disalahpahami oleh seluruh penduduk negeri, tanpa impian atau harapan akan ada hari di mana kesalahpahaman itu bisa dibenahi.
Berdasarkan itu semua maka yang bisa saya tuliskan kepada Anda hanyalah ajakan untuk mengingat kembali bahwa dari cerita nyata yang belum mungkin dikisahkan itu – terdapat hikmah-hikmah kecil keterjebakan manusia untuk cenderung berlaku sebagai abdul munkar atau sohibul makar.
Abdul munkar maksudnya tentu budak kemunkaran. Baik kemunkaran besar seperti penindasan terhadap rakyat, memanipulasi hukum, mencuri harta orang banyak, dlsb. Maupun kemunkaran kecil seperti nyopet tidak karena dipaksa oleh situasi busung lapar, memfitnah tetangga, menghukum teman dengan penilaian yang berdasar ketidak-mengertian, menakut-nakuti dan menyiksa masyarakat waktu arak-arakan kampanye padahal tujuan kampanye adalah merayu hati masyarakat.
Sohibul makar adalah kebiasaan bersahabat dengan kecenderungan perilaku yang memunggungi sunnatullah. Baik sunnatullah yang berlaku pada mekanisme alam, maupun yang dilembagakan oleh tatanan hukum manusia. Kalau misalnya di dalam lakon ketoprak ceplok bokor itu terdapat tokoh sohibul makar, yang menarik adalah apa kelak formula sejarah dari firman Allah bahwa kalau kita makar maka Ia adalah sedahsyat-dahsyatnya Maha Pemakar.

0 komentar:

Poskan Komentar