ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

21 Februari 2011

Mawas Diri (Bagian dari Ilmu Kawruh Beja)

Ceramah Ki Ageng Suryomentaram ini disampaikan beliau dalam pertemuan Junggring Salaka Agung ke VIII di Surabaya, pada tanggal 30 Agustus 1954.

 Orang sering merasa kesulitan karena tidak mengerti diri sendiri. Kesulitan tersebut dapat dipecahkan bila orang mengerti diri sendiri. Maka mengetahui diri sendiri dapat memecahkan berbagai macam kesulitan.
Pengertian diri sendiri ini disebut "pangawikan pribadi" atau "pengetahuan diri sendiri." Oleh karena orang itu
terdiri atas jiwa dan raga, sedangkan yang dibicarakan di sini hanya mengenai jiwa saja. Jadi pengetahuan diri sendiri atau
pangawikan pribadi di sini dimaksudkan pengetahuan hal jiwa.
Meskipun jiwa itu tidak dapat ditangkap oleh panca indera, tetapi orang merasa bahwa jiwa itu ada, maka jiwa adalah rasa. Jadi pangawikan pribadi berarti pengertian terhadap rasanya sendiri.
Pribadi yang dimaksudkan di sini bukanlah pribadi yang muluk-muluk tetapi pribadi yang merasa apa-apa, yang memikir apa-apa dan yang ingin apa-apa. Pribadi diri kita sendiri ini terjadi dari rasa-rasa banyak sekali dan rasa-rasa tersebut ada yang dangkal, ada yang dalam, dan ada yang dalam sekali. Tentu saja mengetahui diri sendiri, rasa-rasa sendiri ini, lebih dahulu mengetahui rasa-rasa sendiri yang dangkal, sebab rasa-rasa yang dangkal lebih mudah diketahui dari pada rasa-rasa yang dalam.
Jika orang sudah biasa mengetahui rasa sendiri yang dangkal dapatlah orang mulai mengetahui rasa sendiri yang dalam. Meskipun rasa sendiri yang dangkal itu mudah diketahui tetapi orang sering tidak mengetahui. Maka banyak kesulitan-kesulitan yang dapat dipecahkan oleh karena dapat mengetahui rasa sendiri yang dangkal.
Marilah saudara-saudara saya ajak bersama-sama mengetahui diri sendiri yang dangkal. Diri kita sendiri ini dapat mencatat atau memotret. Orang melihat sesuatu itu berarti memotret sesuatu tersebut. Misalnya orang melihat meja, artinya orang tersebut memotret meja dan di dalam rasa orang tersebut lalu ada potret meja atau gambar meja.
Potret meja tersebut bukanlah meja. Meja dan potret meja tersebut merupakan dua benda yang terpisah, tidak ada sangkut pautnya.
Demikian juga orang mendengar sesuatu, misalnya mendengar lagu, orang itu memotret lagu. Dalam rasa orang itu lantas ada potret lagu dan potret lagu tersebut bukanlah lagu. Demikian juga orang dapat memotret dengan indera yang lain yaitu pembau, peraba dan perasa.
Kecuali memotret barang-barang yang dapat ditangkap oleh panca indera, orang dapat pula memotret rasa. Jika orang merasa sesuatu misalnya merasa haus orang tersebut memotret rasa haus, lalu di dalam rasa ada potret rasa haus. Potret rasa haus tersebut bukanlah rasa haus.
Mengetahui diri sendiri dapat memotret itu adalah mengetahui diri sendiri yang paling dangkal. Selanjutnya dapat mengetahui diri sendiri yang lebih dalam, Maka mengetahui diri sendiri itu berurutan mulai dari yang dangkal sampai pada yang dalam.
Kecuali dapat memotret orang dapat pula menggagas atau mengarang. Misalnya ia mengarang kuda berkepala orang lantas ada gambar kuda berkepala orang dalam rasa orang tersebut. Gambar kuda berkepala orang tersebut bukanlah potret tetapi karangan sebab barangnya yang dipotret tidak ada.
Gambar kuda berkepala orang tersebut bahannya diambil dari potret kuda dan orang. Potret kuda dihilangkan kepalanya dan diganti dengan kepala orang.
Kecuali dapat menggagas, orang dapat pula mencipta, misalnya mencipta payung. Sebelum orang mencipta payung orang berpikir lebih dahulu bagaimana caranya melindungi badan agar supaya tidak basah pada waktu kehujanan. Bila pemikiran telah selesai terciptalah barang yang disebut payung.
Maka barang-barang bikinan orang adalah ciptaan orang. Ciptaan dapat diwujudkan menjadi barang sedangkan gambar tidak dapat diwujudkan menjadi barang. Jadi mencipta dan menggagas itu berlainan.
Kecuali menggagas barang-barang, orang dapat pula menggagas rasa, misalnya menggagas rasa susah selamanya. Bila gagasan rasa itu dikira potret rasa maka akan timbul kesulitan. Banyak sekali gagasan-gagasan rasa yang dikira potret rasa.
Maka orang banyak mendapatkan kesulitan sebab gagasan dikiranya potret. Bila gagasan tersebut diketahui, kesulitan karena hal tersebut akan hilang.
Orang miskin merasa dirinya celaka lalu menggagas bila ia menjadi orang kaya maka ia akan merasa bahagia. Bahagia tersebut bila diteliti berarti senang terus menerus atau selamanya. Jadi bahagia tersebut adalah gagasan bukan potret.
Orang kaya itu memang ada dan dapat dipotret. Pengalaman (lelakon) orang kaya itu ada dan dapat dipotret. Tetapi kebahagiaan orang kaya itu tidak ada, maka tidak dapat dipotret. Jadi kebahagiaan seperti di atas adalah gagasan.
Misalnya orang merasa celaka (malang nasibnya) dan segala usaha untuk mencari kebahagiaan sudah tidak dapat, orang lantas menggagas, nanti sesudah mati akan mendapat kebahagiaan. Kebahagiaan nanti sesudah mati itu adalah gagasan. Bila gagasan tersebut diketahui maka gagasan tersebut akan lenyap sehingga tidak lagi menimbulkan kesulitan.
Biasanya orang menggagas kebahagiaan sesudah mati itu demikian: Orang mati itu yang rusak raganya sedang jiwanya atau sukmanya tidak rusak. Jadi gagasan akan mendapat kebahagiaan sesudah mati itu berarti yang bahagia adalah sukmanya.
Salah satu gagasan mendapat kebahagiaan sesudah mati itu demikian: Sukma tersebut menjelma menjadi orang lagi yaitu menjadi orang kaya, mulia dan berkuasa. Sedang gagasan bahagia yang lain demikian: Sukma tersebut bersatu dengan Hyang Sukma. Jadi gagasan itu berbeda-beda sebab orang menggagas itu bebas dan dapat sekehendaknya sendiri.
Oleh karena gagasan itu berbeda-beda maka orang menjadi bertengkar. Bila orang yang mempunyai gagasan yang sama itu menggerombol, maka gerombolan tersebut akan berperang dengan gerombolan lain yang mempunyai gagasan yang berlainan. Jadi gagasan itu menimbulkan perpecahan dan peperangan.
Meskipun yang menimbulkan peperangan itu hanya gagasan, tetapi tembak menembaknya sungguh-sungguh bukan gagasan. Demikianlah gagasan itu bila tidak diketahui akan menimbulkan kesulitan.
Misalnya orang merasa celaka (malang nasibnya) dan segala usahanya untuk mendapat kebahagiaan sudah tidak dapat, lantas menggagas demikian: Kalau negara diatur "begini" maka orang akan bahagia. Ada orang lain lagi memikir bahagia demikian: Kalau negara diatur "begitu" maka orang akan bahagia, Padahal "begini" dan "begitu" tersebut berbeda maka orang akan bertengkar. Jika orang yang mengatakan "begini" atau "begitu" tersebut menggerombol maka akan terjadilah peperangan. Peperangan tersebut terjadi oleh karena undang-undang yang ditempeli gagasan bahagia. Demikianlah gagasan itu bila tidak diketahui dapat menimbulkan perang.
Ada lagi gagasan menimbulkan kesulitan. Yaitu anggapan bahwa teh enak, kopi enak dan limun enak. Minuman terasa enak itu bagi orang yang merasa haus, sedangkan yang diminum itu teh, kopi atau limun bukanlah soalnya.
Jadi teh enak, kopi enak dan limun enak adalah gagasan, bukan potret. Jika gagasan itu dianggapnya potret orang akan berebutan teh, kopi dan limun. Demikianlah gagasan itu menimbulkan pertikaian.
Ada lagi gagasan yang menyebabkan timbulnya pertengkaran yaitu: baju-sutera-baik dan baju-belaco-jelek. Potret rasa yang sebenarnya demikian: Orang merasa dingin kemudian memakai baju sehingga merasa enak dan baik. Apakah bajunya dari bahan sutera atau belaco bukanlah menjadi soal. Gagasan sutera baik sedangkan belaco jelek tersebut menyebabkan orang berebutan sutera sehingga menimbulkan peperangan. Demikianlah gagasan dapat menimbulkan peperangan.
Ada lagi gagasan yang menimbulkan pertengkaran, yaitu gagasan orang tampan dan orang cantik yang dihubungkan dengan perkawinan. Potret keindahan seperti hidung mancung atau pesek dan kulit kuning atau sawo matang itu memang ada tetapi keindahan tersebut tidak ada hubungannya dengan perkawinan. Orang cantik dan tampan dalam perkawinan yang berasal dari rasa hidup untuk melangsungkan jenis itu berasal dari rasa butuh. Jika sedang butuh, orang akan kelihatan cantik atau tampan dan apabila orang sedang tidak butuh, tidak kelihatan cantik atau tampan. Apabila gagasan orang cantik atau tampan tersebut diketahui, orang tidak berebutan wanita cantik atau pria tampan dan tidak lagi bersaingan merasa lebih cantik atau lebih tampan.
Demikian gagasan menimbulkan pertikaian dan peperangan. Jadi diri sendiri dapat memotret dan menggagas. Banyak persoalan dapat dipecahkan dengan cara membedakan potret dan gagasan.
Apabila orang sudah jelas dengan gagasannya orang dapat melanjutkan meneliti diri sendiri yang lebih dalam yaitu "si tukang menggagas". Mengapa diri sendiri selalu menggagas? Diri sendiri selalu menggagas karena diri sendiri merasa celaka.

TUKANG MENGGAGAS
Orang miskin merasa ceiaka lalu menggagas kebahagiaan orang kaya, Orang yang rendah derajatnya menggagas tinggi derajatnya, orang yang tidak berkuasa menggagas berkuasa, jelek menggagas baik, curang menggagas jujur, pemarah menggagas sabar, pemalas menggagas rajin dan sebagainya. Jadi yang menggagas itu "si-merasa-celaka".
Gagasan itu cita-cita meskipun yang di cita-citakan itu bermacam-macam, tetapi pada pokoknya mencari kebahagiaan. Jadi si-merasa-celaka mencari kebahagiaan.
Si-merasa-celaka itu menelorkan bermacam-macam rasa yang saling berlawanan. Bahagia dan celaka, baik dan buruk, ingin dan menahan keinginan, sabar dan pemarah. Rasa-rasa yang berlawanan tersebut menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga menyebabkan orang merasa tidak tenteram.
Dalam pertentangan rasa yang berlawanan tersebut oreng sering membela salah satu. Bila yang dibela kalah, orang merasa menyesal. Misalnya bila orang membela si jujur dalam pertengkarannya dengan si curang.
Apabila si curang yang menang sehingga perbuatan curang terlaksana, orang merasa menyesal. Demikian pula jika membela si jujur sehingga perbuatan jujur terlaksana orangpun merasa menyesal.
Pada waktu orang membela salah satu rasa berlawanan tersebut orang menyatukan dirinya dengan salah satu rasa. Pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa curang, orang merasa "aku si curang", dan pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa jujur, orang merasa "aku si jujur". Oleh karena pertentangan rasa berlawanan tersebut, orang sering menjadi bingung sehingga punya pendapat bahwa pertentangan rasa berlawanan tersebut merupakan ujian hidup. Jika lulus, orang akan mendapat karunia.
Demikian jika orang tunduk kepada rasa berlawanan. Apabila orang tidak menyatukan dirinya dengan salah satu, orang akan dapat meneliti rasa berlawanan tersebut sampai kepada sumbernya yaitu si-merasa-celaka. Si merasa celaka itulah si tukang menggagas bahagia.
Pada waktu orang akan meneliti rasa celakanya sendiri, orang akan bertemu dengan rasa benci terhadap rasa celakanya sendiri. Bila benci kepada rasa celakanya sendiri, orang akan menutupi rasa celakanya sendiri tersebut dengan mengidam-idamkan kebahagiaan. Bila usaha untuk menutupi tersebut diketahui, rasa benci akan lenyap sehingga tidak akan menutupi lagi. Bila rasa benci sudah lenyap orang akan bertemu dengan rasa senang terhadap celakanya sendiri, yang menutupi untuk dapat melihat rasa celakanya sendiri dan membela rasa senangnya itu. Dalam hatinya berkata: "Jika orang tidak merasa celaka itu tidak ada kemajuannya, maka orang itu harus berprihatin."
Jika rasa senang terhadap celakanya sendiri yang menutupi itu diketahui, rasa senang tersebut lenyap sehingga orang dapat melanjutkan meneliti rasa celakanya sendiri. Kemudian orang akan bertemu dengan rasanya sendiri yang akan berusaha mengubah rasa celakanya sendiri. Selama ada usaha untuk mengubah, orang tidak akan mengetahui rasa celakanya sendiri yaitu si-tukang-menggagas.
Bila diketahui bahwa usaha mengubah rasa celakanya sendiri itu menutupi, usaha itu akan lenyap sehingga orang akan jelas melihat rasa celakanya sendiri yaitu "Aku Kramadangsa celaka".
Kramadangsa itu rasa namanya sendiri. Kalau namanya Suta, orang merasa aku si Suta dan jika namanya Naya, orang merasa aku si Naya. Apabila orang sudah merasa "Aku Kramadangsa celaka," maka dapatlah orang meneliti rasa eelakanya sendiri.
Kemudian orang dapat menelusuri dirinya sendiri mencari rasa celakanya. Apakah melarat itu celaka? Dan bagaimanakah celakanya orang melarat? Apakah orang yang berpangkat rendah itu celaka? Apakah merasa curang itu celaka? Apakah merasa pemarah itu celaka? Dengan diteliti cara demikian rasa celakanya sendiri tidaklah ketemu.
Bila diteliti lebih mendalam lagi, akan diketemukan bahwa rasa celaka tersebut hanyalah rasa yang tidak mau dalam keadaan lahir atau batin yang sewajarnya, sekarang, di sini. Misalnya diri sendiri sekarang di sini melarat, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri pemarah, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri curang, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Jadi celaka itu hanyalah: "Sekarang di sini begini, aku tidak mau."
Jadi bahagia itu hanyalah: "Sekarang di sini begini, aku mau." Jika sekarang di sini melarat atau kaya, aku mau, bahagialah orang itu. Jika sekarang di sini merasa curang atau jujur, aku mau, bahagialah orang itu. Jadi bahagia dan celaka itu tergantung pada diri sendiri.
Di sini akan menimbulkan kesulitan yang berupa pertanyaan: "Jika demikian orang tidak mau berusaha." Kesulitan tersebut timbul hanyalah karena kurang telitinya orang menelusuri diri sendiri.
Untuk jelasnya demikian. Kesulitan tersebut timbul dari gagasan, yang menganggap bahwa orang dapat lepas dari berusaha. Jika gagasan tersebut diketahui orang dapat melihat bah*a orang tidak mungkin lepas dari berusaha. Maka lenyaplah kesulitan tersebut.
Jika orang mengerti bahwa bahagia atau celaka itu hanyalah tergantung pada diri sendiri, orang akan dapat meneliti gagasan-gagasan celaka yang masih hidup dalam diri sendiri dan dapat mengganti gagasan tersebut menjadi potret. Misalnya gagasan demikian: "Isteriku ini memang cerewet." Gagasan tersebut dapat diganti potret demikian: "Isteriku ini memang setia kepada suami, meskipun aku sudah diberhentikan dari jabatanku, ia tidak minta cerai, tapi hanya cukup sering mengomeliku saja." Jika gagasan sudah diganti potret, orang merasa enak sebab gagasan itu rasanya tidak enak sedangkan potret rasanya enak.
Bahagia dan celaka itu hanyalah soal mau atau tidak mau. Agar lebih jelas perlu diberi contoh. Misalnya ada dua orang berjalan bersama-sama dalam keadaan kehujanan. Yang satu mau, maka rasanya bahagia sedangkan yang lain tidak mau, maka rasanya celaka. Jadi meskipun dua orang tersebut dalam keadaan yang sama, tetapi yang satu menanggapi dengan mau dan yang lain tidak mau. Maka bahagia dan celaka itu hanyalah persoalan mau tidak mau.
Rasa mau sekarang di sini itu adalah rasa abadi. Di sini ada kesulitan yaitu tentang rasa abadi dan pengertian abadi. Jika kesulitan ini belum terpecahkan orang tidak dapat merasakan rasa abadi.
Pengertian abadi itu ialah; dahulu ada, sekarang ada dan nanti pun tetap ada. Dahulu begitu, sekarang begitu dan nanti pun tetap begitu. Waktu dapat dibagi menjadi dua macam yaitu waktu luar dan waktu dalam (waktu jiwa). Waktu luar itu wujudnya seperti satu menit, dua menit, setahun, dua tahun dan sebagainya.
Waktu jiwa itu wujudnya; tadi, kemarin, besok, dahulu dan nanti. Kramadangsa hidup dalam waktu jiwa yaitu dahulu dan nanti. Maka Kramadangsa tidak berani melihat diri sendiri sekarang di sini begini.
Kramadangsa tua itu biasanya sering hidup dalam waktu dahulu, rasanya demikian. "Dahulu waktu aku masih muda dapat begini-begini." Maka bila ditanya oleh cucunya: "Sekarang bagaimana mbah?" Jawabnya mencari-cari alasan begini: "Kalau sekarang aku sudah bobrok dan takut kedinginan." Demikianlah Kramadangsa tua hidup dalam waktu dahulu.
Kramadangsa muda itu biasanya hidup dalam waktu nanti, rasanya demikian: "Aku nanti akan begini begitu dan akan hebat." Maka bila ditanya oleh neneknya, jawabnya mencari-cari alasan begini: "Kalau sekarang jamannya memang tidak baik." Demikianlah Kramadangsa muda hidup dalam waktu nanti.
Rasa abadi itu rasa sekarang-disini-begini, tidak bercampur dengan rasa kemarin, besok, dahulu dan nanti. Misalnya orang sedang berjalan di jalan besar dan akan ketabrak mobil, kemudian melompat menghindari. Orang tersebut hanyalah merasa "Sekarang di sini aku melompat," tidak dicampuri rasa kemarin atau besok.
Orang tersebut tidak sengaja merasa abadi, hanyalah terpaksa oleh keadaan, yang harus diselesaikan tanpa berpikir panjang. Bila rasa abadi tersebut diteliti maka akan diketemukan perhatian terpusat hanya terhadap satu hal yaitu melompat. Perhatian terpusat itu adalah perhatian bebas, maka rasa abadi adalah perhatian bebas terhadap salah satu hal tidak tercampur dengan perhatian lain.
Bila mengerti bahwa merasa abadi itu dari rasa bebas, dapatlah orang dengan sengaja merasa abadi. Tiap memusatkan perhatian terhadap sesuatu, tentu merasa abadi meskipun yang diperhatikan tersebut barang yang dapat dilihat ataupun dirasa. Rasa abadi dapat menghilangkan kesulitan yang berwujud menyesal dan khawatir.
Bila rasa menyesal diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk mengubah, maka dapatlah orang merasakan rasanya sehingga terlihat kejadiannya dan terlihat pula sebabnya. Sesal adalah gagasan luka dalam hati, bila diperhatikan sepenuhnya sampai selesai, sesal tersebut lenyap dan luka dalam hati akan sembuh.
Demikian pula rasa khawatir bila diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk merubah, lenyaplah rasa khawatir tersebut. Jadi rasa abadi dapat melenyapkan rasa sesal dan khawatir.
Kebalikan dari perhatian terpusat adalah perhatian terpencar. Contoh perhatian terpencar misalnya, ketika sedang bepergian yang diperhatikan rumahnya dan setelah di rumah yang diperhatikan tempat lain. Perhatian terpencar itu menyebabkan orang tidak dapat selesai memikir salah satu persoalan.
Yang menyebabkan perhatian tidak terpusat atau tidak bebas adalah kesulitan yang belum dapat dipecahkan, meskipun orang itu merasa atau tidak merasa. Kesulitan yang belum dipecahkan tersebut sering muncul untuk minta diperhatikan. Maka orang yang mempunyai banyak kesulitan yang tidak terpecahkan, perhatiannya selalu ditarik ke sana ke mari.
Kesulitan yang tidak terpecahkan itu adalah suatu penyakit jiwa. Bila penyakit tersebut berat, menyebabkan orang tidak dapat menerima pembicaraan orang lain. Jadi penyakit jiwa tersebut, menyebabkan orang merasa sepi.
Bila kesulitan diperhatikan dengan sepenuhnya dan diteliti sampai selesai, orang lantas merasa bebas perhatiannya, artinya orang dapat memilih apa yang akan diperhatikan dengan bebas. Keadaan rasa bebas memilih tersebut sehingga datangnya kesulitan baru. Jadi di antara selesainya kesulitan dan datangnya kesulitan ada waktu yang kosong.
Dalam waktu tersebut orang dapat melihat hal yang sesungguhnya atau keadaan sejati. Misalnya melihat burung terbang, orang merasakan keindahannya, melihat rumput yang hijau merasa indah, melihat gunung yang besar merasa agung dan sebagainya.
Kebalikannya, bila ada kesulitan yang belum selesai orang tidak dapat melihat hal yang sesungguhnya. Misalnya melihat burung terbang merasa iri, melihat gua ingin digunakan untuk bersembunyi, bertapa dan sebagainya. Jadi waktu kosong antara dua kesulitan merupakan pengalaman perhatian bebas.
Demikianlah "pangawikan pribadi" atau "pengetahuan diri sendiri" dapat digunakan untuk memecahkan kesulitan. Demikian pula orang dapat mengetahui diri sendiri mulai yang paling dangkal sampai kepada yang dalam. Cara latihan untuk mengetahui diri sendiri tersebut akan dlpaparkan pada halaman berikutnya.

TUKANG MENGGAGAS
Orang miskin merasa ceiaka lalu menggagas kebahagiaan orang kaya, Orang yang rendah derajatnya menggagas tinggi derajatnya, orang yang tidak berkuasa menggagas berkuasa, jelek menggagas baik, curang menggagas jujur, pemarah menggagas sabar, pemalas menggagas rajin dan sebagainya. Jadi yang menggagas itu "si-merasa-celaka".
Gagasan itu cita-cita meskipun yang di cita-citakan itu bermacam-macam, tetapi pada pokoknya mencari kebahagiaan. Jadi si-merasa-celaka mencari kebahagiaan.
Si-merasa-celaka itu menelorkan bermacam-macam rasa yang saling berlawanan. Bahagia dan celaka, baik dan buruk, ingin dan menahan keinginan, sabar dan pemarah. Rasa-rasa yang berlawanan tersebut menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga menyebabkan orang merasa tidak tenteram.
Dalam pertentangan rasa yang berlawanan tersebut oreng sering membela salah satu. Bila yang dibela kalah, orang merasa menyesal. Misalnya bila orang membela si jujur dalam pertengkarannya dengan si curang.
Apabila si curang yang menang sehingga perbuatan curang terlaksana, orang merasa menyesal. Demikian pula jika membela si jujur sehingga perbuatan jujur terlaksana orangpun merasa menyesal.
Pada waktu orang membela salah satu rasa berlawanan tersebut orang menyatukan dirinya dengan salah satu rasa. Pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa curang, orang merasa "aku si curang", dan pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa jujur, orang merasa "aku si jujur". Oleh karena pertentangan rasa berlawanan tersebut, orang sering menjadi bingung sehingga punya pendapat bahwa pertentangan rasa berlawanan tersebut merupakan ujian hidup. Jika lulus, orang akan mendapat karunia.
Demikian jika orang tunduk kepada rasa berlawanan. Apabila orang tidak menyatukan dirinya dengan salah satu, orang akan dapat meneliti rasa berlawanan tersebut sampai kepada sumbernya yaitu si-merasa-celaka. Si merasa celaka itulah si tukang menggagas bahagia.
Pada waktu orang akan meneliti rasa celakanya sendiri, orang akan bertemu dengan rasa benci terhadap rasa celakanya sendiri. Bila benci kepada rasa celakanya sendiri, orang akan menutupi rasa celakanya sendiri tersebut dengan mengidam-idamkan kebahagiaan. Bila usaha untuk menutupi tersebut diketahui, rasa benci akan lenyap sehingga tidak akan menutupi lagi. Bila rasa benci sudah lenyap orang akan bertemu dengan rasa senang terhadap celakanya sendiri, yang menutupi untuk dapat melihat rasa celakanya sendiri dan membela rasa senangnya itu. Dalam hatinya berkata: "Jika orang tidak merasa celaka itu tidak ada kemajuannya, maka orang itu harus berprihatin."
Jika rasa senang terhadap celakanya sendiri yang menutupi itu diketahui, rasa senang tersebut lenyap sehingga orang dapat melanjutkan meneliti rasa celakanya sendiri. Kemudian orang akan bertemu dengan rasanya sendiri yang akan berusaha mengubah rasa celakanya sendiri. Selama ada usaha untuk mengubah, orang tidak akan mengetahui rasa celakanya sendiri yaitu si-tukang-menggagas.
Bila diketahui bahwa usaha mengubah rasa celakanya sendiri itu menutupi, usaha itu akan lenyap sehingga orang akan jelas melihat rasa celakanya sendiri yaitu "Aku Kramadangsa celaka".
Kramadangsa itu rasa namanya sendiri. Kalau namanya Suta, orang merasa aku si Suta dan jika namanya Naya, orang merasa aku si Naya. Apabila orang sudah merasa "Aku Kramadangsa celaka," maka dapatlah orang meneliti rasa eelakanya sendiri.
Kemudian orang dapat menelusuri dirinya sendiri mencari rasa celakanya. Apakah melarat itu celaka? Dan bagaimanakah celakanya orang melarat? Apakah orang yang berpangkat rendah itu celaka? Apakah merasa curang itu celaka? Apakah merasa pemarah itu celaka? Dengan diteliti cara demikian rasa celakanya sendiri tidaklah ketemu.
Bila diteliti lebih mendalam lagi, akan diketemukan bahwa rasa celaka tersebut hanyalah rasa yang tidak mau dalam keadaan lahir atau batin yang sewajarnya, sekarang, di sini. Misalnya diri sendiri sekarang di sini melarat, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri pemarah, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri curang, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Jadi celaka itu hanyalah: "Sekarang di sini begini, aku tidak mau."
Jadi bahagia itu hanyalah: "Sekarang di sini begini, aku mau." Jika sekarang di sini melarat atau kaya, aku mau, bahagialah orang itu. Jika sekarang di sini merasa curang atau jujur, aku mau, bahagialah orang itu. Jadi bahagia dan celaka itu tergantung pada diri sendiri.
Di sini akan menimbulkan kesulitan yang berupa pertanyaan: "Jika demikian orang tidak mau berusaha." Kesulitan tersebut timbul hanyalah karena kurang telitinya orang menelusuri diri sendiri.
Untuk jelasnya demikian. Kesulitan tersebut timbul dari gagasan, yang menganggap bahwa orang dapat lepas dari berusaha. Jika gagasan tersebut diketahui orang dapat melihat bah*a orang tidak mungkin lepas dari berusaha. Maka lenyaplah kesulitan tersebut.
Jika orang mengerti bahwa bahagia atau celaka itu hanyalah tergantung pada diri sendiri, orang akan dapat meneliti gagasan-gagasan celaka yang masih hidup dalam diri sendiri dan dapat mengganti gagasan tersebut menjadi potret. Misalnya gagasan demikian: "Isteriku ini memang cerewet." Gagasan tersebut dapat diganti potret demikian: "Isteriku ini memang setia kepada suami, meskipun aku sudah diberhentikan dari jabatanku, ia tidak minta cerai, tapi hanya cukup sering mengomeliku saja." Jika gagasan sudah diganti potret, orang merasa enak sebab gagasan itu rasanya tidak enak sedangkan potret rasanya enak.
Bahagia dan celaka itu hanyalah soal mau atau tidak mau. Agar lebih jelas perlu diberi contoh. Misalnya ada dua orang berjalan bersama-sama dalam keadaan kehujanan. Yang satu mau, maka rasanya bahagia sedangkan yang lain tidak mau, maka rasanya celaka. Jadi meskipun dua orang tersebut dalam keadaan yang sama, tetapi yang satu menanggapi dengan mau dan yang lain tidak mau. Maka bahagia dan celaka itu hanyalah persoalan mau tidak mau.
Rasa mau sekarang di sini itu adalah rasa abadi. Di sini ada kesulitan yaitu tentang rasa abadi dan pengertian abadi. Jika kesulitan ini belum terpecahkan orang tidak dapat merasakan rasa abadi.
Pengertian abadi itu ialah; dahulu ada, sekarang ada dan nanti pun tetap ada. Dahulu begitu, sekarang begitu dan nanti pun tetap begitu. Waktu dapat dibagi menjadi dua macam yaitu waktu luar dan waktu dalam (waktu jiwa). Waktu luar itu wujudnya seperti satu menit, dua menit, setahun, dua tahun dan sebagainya.
Waktu jiwa itu wujudnya; tadi, kemarin, besok, dahulu dan nanti. Kramadangsa hidup dalam waktu jiwa yaitu dahulu dan nanti. Maka Kramadangsa tidak berani melihat diri sendiri sekarang di sini begini.
Kramadangsa tua itu biasanya sering hidup dalam waktu dahulu, rasanya demikian. "Dahulu waktu aku masih muda dapat begini-begini." Maka bila ditanya oleh cucunya: "Sekarang bagaimana mbah?" Jawabnya mencari-cari alasan begini: "Kalau sekarang aku sudah bobrok dan takut kedinginan." Demikianlah Kramadangsa tua hidup dalam waktu dahulu.
Kramadangsa muda itu biasanya hidup dalam waktu nanti, rasanya demikian: "Aku nanti akan begini begitu dan akan hebat." Maka bila ditanya oleh neneknya, jawabnya mencari-cari alasan begini: "Kalau sekarang jamannya memang tidak baik." Demikianlah Kramadangsa muda hidup dalam waktu nanti.
Rasa abadi itu rasa sekarang-disini-begini, tidak bercampur dengan rasa kemarin, besok, dahulu dan nanti. Misalnya orang sedang berjalan di jalan besar dan akan ketabrak mobil, kemudian melompat menghindari. Orang tersebut hanyalah merasa "Sekarang di sini aku melompat," tidak dicampuri rasa kemarin atau besok.
Orang tersebut tidak sengaja merasa abadi, hanyalah terpaksa oleh keadaan, yang harus diselesaikan tanpa berpikir panjang. Bila rasa abadi tersebut diteliti maka akan diketemukan perhatian terpusat hanya terhadap satu hal yaitu melompat. Perhatian terpusat itu adalah perhatian bebas, maka rasa abadi adalah perhatian bebas terhadap salah satu hal tidak tercampur dengan perhatian lain.
Bila mengerti bahwa merasa abadi itu dari rasa bebas, dapatlah orang dengan sengaja merasa abadi. Tiap memusatkan perhatian terhadap sesuatu, tentu merasa abadi meskipun yang diperhatikan tersebut barang yang dapat dilihat ataupun dirasa. Rasa abadi dapat menghilangkan kesulitan yang berwujud menyesal dan khawatir.
Bila rasa menyesal diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk mengubah, maka dapatlah orang merasakan rasanya sehingga terlihat kejadiannya dan terlihat pula sebabnya. Sesal adalah gagasan luka dalam hati, bila diperhatikan sepenuhnya sampai selesai, sesal tersebut lenyap dan luka dalam hati akan sembuh.
Demikian pula rasa khawatir bila diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk merubah, lenyaplah rasa khawatir tersebut. Jadi rasa abadi dapat melenyapkan rasa sesal dan khawatir.
Kebalikan dari perhatian terpusat adalah perhatian terpencar. Contoh perhatian terpencar misalnya, ketika sedang bepergian yang diperhatikan rumahnya dan setelah di rumah yang diperhatikan tempat lain. Perhatian terpencar itu menyebabkan orang tidak dapat selesai memikir salah satu persoalan.
Yang menyebabkan perhatian tidak terpusat atau tidak bebas adalah kesulitan yang belum dapat dipecahkan, meskipun orang itu merasa atau tidak merasa. Kesulitan yang belum dipecahkan tersebut sering muncul untuk minta diperhatikan. Maka orang yang mempunyai banyak kesulitan yang tidak terpecahkan, perhatiannya selalu ditarik ke sana ke mari.
Kesulitan yang tidak terpecahkan itu adalah suatu penyakit jiwa. Bila penyakit tersebut berat, menyebabkan orang tidak dapat menerima pembicaraan orang lain. Jadi penyakit jiwa tersebut, menyebabkan orang merasa sepi.
Bila kesulitan diperhatikan dengan sepenuhnya dan diteliti sampai selesai, orang lantas merasa bebas perhatiannya, artinya orang dapat memilih apa yang akan diperhatikan dengan bebas. Keadaan rasa bebas memilih tersebut sehingga datangnya kesulitan baru. Jadi di antara selesainya kesulitan dan datangnya kesulitan ada waktu yang kosong.
Dalam waktu tersebut orang dapat melihat hal yang sesungguhnya atau keadaan sejati. Misalnya melihat burung terbang, orang merasakan keindahannya, melihat rumput yang hijau merasa indah, melihat gunung yang besar merasa agung dan sebagainya.
Kebalikannya, bila ada kesulitan yang belum selesai orang tidak dapat melihat hal yang sesungguhnya. Misalnya melihat burung terbang merasa iri, melihat gua ingin digunakan untuk bersembunyi, bertapa dan sebagainya. Jadi waktu kosong antara dua kesulitan merupakan pengalaman perhatian bebas.
Demikianlah "pangawikan pribadi" atau "pengetahuan diri sendiri" dapat digunakan untuk memecahkan kesulitan. Demikian pula orang dapat mengetahui diri sendiri mulai yang paling dangkal sampai kepada yang dalam. Cara latihan untuk mengetahui diri sendiri tersebut akan dlpaparkan pada halaman berikutnya.

UNSUR-UNSUR KRAMADANGSA
Bila Kramadangsa mati, orang akan mengetahui unsur-unsur Kramadangsa. Kramadangsa itu terjadi dari catatan-catatan: harta benda, pekerjaan, kehormatan, kekuasaan, keluarga, gerombolan, bangsa, jenis, kepandaian, kepercayaan, rasa hidup dan sebagainya. Jadi bila Kramadangsa mati orang akan dapat mempelajari unsur-unsur Kramadangsa tanpa senang dan benci dan tanpa rasa ingin mengubah.
Catatan-catatan yang menjadi unsur-unsur Kramadangsa tersebut hidup, karena itu gerak dan diam dan perlu makan. Unsur-unsur Kramadangsa itulah yang mendorong dan menggerakkan Kramadangsa. Oleh karena itu bila orang tidak mengerti unsur-unsur Kramadangsa, sering terkejut akan perbuatan sendiri yang tidak diduga-duga, misalnya: bercerai dengan isterinya, menyumpahi dan mengusir anaknya, bertengkar dengan tetangga dan sebagainya.
Catatan harta benda wujudnya: catatan rumah, halaman, sawah, harta dan sebagainya. Catatan harta benda tersebut hidup, oleh karena itu ingin kelangsungan hidupnya, dan catatan tersebut dapat pula mati.
Seperti benda hidup lainnya catatan harta benda itu ada rasanya. Catatan harta benda itu rasanya lemah sekali. Misalnya rumah itu dapat bocor, lapuk dan dapat rusak.
Oleh karena merasa lemah, catatan harta benda berusaha agar menjadi kuat. Usaha untuk menjadi kuat itu menumbuhkan Kramadangsa. Jadi Kramadangsa itu pesuruh dari unsur-unsurnya.
Kramadangsa itulah yang berusaha agar harta benda menjadi kuat. Kramadangsa itu mengerti tentang aturan terjadinya benda (barang dumadi), tetapi catatan harta benda tidak. Maka Kramadangsa itu hidup dalam ukuran ketiga, sedang catatan harta benda hidup dalam ukuran kedua.
Andaikata diserang atau dirugikan, catatan harta benda tentu akan membela diri tanpa berpikir. Bila rasa membela diri itu muncul dalam perasaan, Kramadangsa akan memikir bagaimana untungnya membela diri. Jadi Kramadangsa itu adalah alat dari catatan harta-benda agar menguntungkan dan menolak bila dirugikan.
Demikian pula unsur-unsur yang lain menggunakan Kramadangsa untuk membela diri. Antara unsur-unsur Kramadangsa itu sering bertentangan antara satu dengan yang lain, sehingga menyebabkan orang menemui kesulitan.
Misalnya harta benda seseorang dihabiskan oleh anaknya. Anak adalah unsur dari Kramadangsa dan harta bendapun unsur dari Kramadangsa. Jadi dua unsur saling berselisihan.
Perselisihan antara unsur-unsur itulah yang menyebabkan orang menemui kesulitan. Bila kesulitan itu diteliti, akan ketemu, bahwa catatan-catatan yang menjadi unsur Kramadangsa itu ada yang salah. Jadi catatan itu dapat benar dan dapat pula salah.
Catatan benar rasanya enak, sedangkan catatan salah rasanya tidak enak. Bila orang mengerti bahwa catatan itu dapat benar dan dapat pula salah, dapatlah orang meneliti catatan salah untuk dibetulkan. Sebagai petunjuk yang jelas bahwa catatan itu salah bila sudah terjadi kesulitan.

CATATAN BENAR dan CATATAN SALAH
Catatan harta benda sering salah. Harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan hidup yaitu: makan, pakaian dan tempat tinggal. Jika keliru, harta benda itu dipergunakan untuk mencari kehormatan dan kekuasaan. Padahal kehormatan dan kekuasaan itu kebutuhan jiwa. Apabila harta benda digunakan untuk mencukupi kebutuhan jiwa, orang merasa tidak cukup, walaupun orang mempunyai berapa banyaknya harta benda, sehingga orang akan berebutan harta benda.
Bila kita mengerti bahwa harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan raga atau hidup, orang akan tenteram, karena mengerti bahwa kebutuhan raga itu sedikit sekali. Harta benda untuk kebutuhan jiwa tanpa batas, sebab untuk bersaingan. Bersaingan itulah yang menyebabkan orang menjadi sewenang-wenang.
Bila harta benda digunakan untuk kebutuhan jiwa, maka pekerjaan pun salah bila digunakan untuk bersaingan sehingga menyebabkan adanya pekerjaan yang dianggap rendah, tinggi, halus dan kasar. Jadi bila terjadi salah anggapan tentang pekerjaan maka akan ada pekerjaan bahagia dan celaka dan ada tingkat (pangkat) pekerjaan.
Pekerjaan yang tingkatnya rendah disebut pekerjaan celaka dan yang tingkatnya tinggi disebut pekerjaan bahagia. Itulah yang menyebabkan orang berebutan tingkat tinggi. Demikian bila pekerjaan digunakan untuk kebutuhan jiwa menyebabkan orang berebutan pekerjaan tinggi sehingga menimbulkan perselisihan.
Bila orang mengerti bahwa pekerjaan itu digunakan untuk kebutuhan raga, maka orang akan merasa tenteram. Bila rasa celaka muncul dalam perasaan, orang akan melihat bahwa rasa celaka demikian adalah keliru, maka lenyaplah rasa celaka tersebut. Demikian selanjutnya bila rasa celaka muncul kembali.
Tiap kali celaka muncul, catatan salah tentang pekerjaan yang menimbulkan rasa celaka tersebut menjadi benar. Bila catatan pekerjaan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, Kramadangsa tidak lagi merasa lebih tinggi atau kurang tinggi dengan orang lain dalam hal pekerjaan. Apabila pekerjaan sudah tidak dibandingkan dengan orang lain, orang akan merasa tenteram.
Catatan kehormatan menyebabkan orang marah bila dihina dan tertawa bila dihormati. Jika orang tidak mengerti sifat unsur kehormatan tersebut, orang akan mengharapkan tidak marah bila dihina, sebab marah itu menyebabkan berselisih bila lahir menjadi perbuatan. Harapan agar tidak marah tersebut menjadi menahan marah.
Marah yang ditahan itu tidak hilang marahnya, tetapi hanya berganti rupa yang berwujud menggerutu, membicarakan orang lain dan sebagainya. Orang sering lupa dengan marahnya sendiri yang sudah berganti rupa. Bila orang tidak lupa dengan marahnya sendiri yang sudah berganti rupa dapatlah melanjutkan meneliti marahnya sendiri sampai kepada sumbernya yaitu unsur kehormatan yang dihina.
Catatan kehormatan sering pula salah. Wujudnya berupa pengertian demikian: "Dihormati itu rasanya enak." Catatan kehormatan yang salah tersebut menyebabkan orang berusaha mati-matian agar supaya dihormati. Inilah yang menyebabkan orang berebutan kehormatan.
Catatan kehormatan benar, berwujud pengertian demikian: "Hormat itu rasanya enak." Hormat itu rasanya enak, baik hormat itu dari diri sendiri kepada orang lain maupun dari orang lain kepada diri sendiri.
Bila mengerti bahwa hormat itu rasanya enak, orang tidak usah menunggu dihormati oleh orang lain tetapi cukuplah menghormati orang lain. Meskipun lahir atau tidak lahir menjadi perbuatan, menghormati itu rasanya enak. Jadi enak dalam kehormatan itu pada diri sendiri tidak pada orang lain.
Bila catatan kehormatan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, orang dapat melihat dan tidak lupa kepada rasanya sendiri, bila rasa minta dihormati muncul dalam perasaan. Bila rasa minta dihormati itu ketahuan, tidak akan lahir menjadi perbuatan minta dihormati. Mengetahui diri sendiri minta dihormati itu menyebabkan rasa tenteram. Mengetahui diri sendiri minta dihormati itu berbeda dengan menahan diri, agar tidak kelihatan minta dihormati. Menahan diri itu rasanya gelisah, takut dan tidak enak, sedangkan mengetahui itu rasanya tenteram, tabah dan enak. Jadi menahan diri itu mengandung rasa takut sedangkan mengetahui itu mengandung rasa tabah.
Catatan kekuasaan yang menjadi unsur Kramadangsa dapat-pula benar dan salah. Bila catatan tersebut benar rasanya enak, sedangkan Bila salah rasanya tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan dapat melihat unsur kekuasaan tersebut.
Unsur kekuasaan ini menyebabkan orang menjadi benci bila diganggu dan menjadi senang bila dibantu. Bila orang tidak mengerti unsur kekuasaan tersebut orang akan mencari kekuasaan dalam masyarakat, sehingga timbullah berebutan kekuasaan dalam masyarakat.
Cita-cita untuk mencari kekuasaan akan lahir menjadi usaha agar ditakuti dalam masyarakat. Bila merasa ditakuti, orang merasa berkuasa dan puas, sehingga orang berebutan agar ditakuti dan menakut-nakuti dalam masyarakat.
Cita-cita mencari ditakuti di dalam masyarakat dianggap cita-cita luhur. Anggapan terhadap hal tersebut dinyatakan dalam ungkapan sebagai berikut: "Orang baru akan memperoleh kewibawaan bila disegani aleh orang lain." Dalam ungkapan tersebut mengandung arti bahwa kewibawaan seseorang itu bila dapat ditakuti atau menakut-nakuti orang lain.
Demikianlah wujud catatan unsur kekuasaan bila diteliti. Bila penelitian dilanjutkan, akan terlihat bahwa catatan tersebut salah. Untuk jelasnya seperti di bawah ini. Rasa mencari kekuasaan itu lahir menjadi keinginan diturut atau dipercaya oleh orang lain. Orang menurut itu terdorong oleh rasa takut ancaman atau harapan akan kebahagiaan. Maka usaha untuk diturut atau dipercaya itu berupa ancaman atau janji yang berupa harapan bahagia, sehingga timbullah dalam masyarakat ancaman-ancaman dan janji-janji. Untuk menguatkan ancaman danjanji-janji tersebut orang mengadakan kelompok-kelompok yang berselisih satu sama lain. Inilah yang menyebabkan peperangan.
Demikian catatan unsur kekuasaan yang salah menyebabkan tidak enak. Jika orang mengerti catatan tersebut salah, orang akan dapat membetulkan seperti berikut: Orang ingin merasa enak dan menolak rasa tidak enak. Tiap orang yang merasa tidak enak dan tidak mengerti bagaimana caranya mendapatkan enak, akan bertanya kepada orang lain yang dianggap dapat. Maka bila ada orang yang dianggap oleh orang banyak dapat mengenakkan orang lain dalam salah satu hal, orang tersebut akan dipercaya oleh orang banyak. Misalnya dukun, dokter, ahli negara, ahli jiwa dan sebagainya. Jadi dipercaya orang lain itu, karena dapat mengenakkan. Catatan demikian itu benar. Maka untuk dipercaya orang, hanyalah dengan mengenakkan orang lain.
Bila catatan unsur kekuasaan tersebut sudah benar, orang dapat mcngetahui rasanya sendiri, rasa ingin dipercaya orang lain yang tidak dengan cara mengenakkan orang lain pada waktu muncul dalam perasaan. Bila rasa ingin dipercaya orang lain tersebut ketahuan sebelum lahir menjadi perbuatan, rasa tersebut tidak akan lahir menjadi perbuatan. Kemudian orang akan melihat apa yang harus dilakukan seketika itu, tanpa memikir panjang. Tindakan demikian itu hasilnya sama enaknya.
Catatan keluarga yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar, rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati orang akan dapat melihat unsur keluarga tersebut.
Keluarga itu terdiri dari suami/isteri, anak yang belum berkeluarga dan orang tua jompo yang jadi tanggungannya. Unsur keluarga ini menyebabkan orang marah bila diganggu dan tertawa bila dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri tentang hubungannya dengan anggota keluarga lain, catatan keluarga tersebut salah.
Catatan keluarga salah menyebabkan perselisihan dalam keluarga. Perselisihan dalam keluarga itu wujudnya ialah, orang bertengkar atau bercerai dengan suami/isterinya, memarahi anaknya dan sebagainya. Jadi heboh dalam keluarga itu disebabkan dari tidak mengerti rasanya sendiri atau dirinya sendiri.
Jadi ketenteraman keluarga itu tergantung kepada pengertiannya tentang diri sendiri. Pengertian diri sendiri dalam keluarga adalah mengetahui hubungan diri sendiri dengan anggota keluarga lainnya. Bila orang mengetahui hubungannya dengan anggota keluarga lainnya, catatan keluarga menjadi benar.
Orang sering ditipu oieh diri sendiri yang merasa cinta kepada suami/isterinya. Rasa cinta di sini dimaksudkan cinta tanpa syarat dan tanpa batas, sebab cinta yang bersyarat dan berbatas adalah bukan cinta. Jadi orang sering merasa cinta kepada suami/isterinya tanpa syarat dan tanpa batas. Rasa cinta tersebut dapat diteliti demikian. Jika orang membelikan baju isteri/suaminya, tetapi isteri/suaminya masih cemberut, apakah orang masih terus mencintai isteri/suaminya? Tentu saja tidak, tetapi menjadi marah.
Jadi orang membelikan baju isteri/suaminya itu mengharapkan senyum. Jadi baju ditukar dengan senyum, demikian itu sama dengan jual beli. Jadi orang tidak mencintai isteri/suaminya, tetapi jual beli.
Demikianlah orang dapat meneliti rasanya sendiri. Bila penelitian dilanjutkan, orang akan melihat rasanya sendiri pada waktu mencari pasangan, rasanya demikian: "Jika dia menjadi suami/isteriku, aku senang sekali."
Dalam ungkapan tersebut menunjukkan bahwa orang hanyalah memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan calon pasangannya. Jadi orang menghargai suami/isterinya hanyalah sebagai kesenangan belaka, seperti kesenangan yang lain, misalnya burung perkutut, gamelan, kucing dan sebagainya. Rasa menghargai seperti itu adalah sewenang-wenang. Jadi orang itu berbuat sewenang-wenang kepada suami/isterinya.
Bila orang mengerti kesewenangannya kepada suami/isterinya, maka catatan keluarga yang merupakan unsur Kramadangsa bagian suami/isteri menjadi benar. Bila rasa sewenang-wenang muncul dalam perasaan dalam hubungannya dengan suami/isterinya diketahui, tidak akan lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang.
Demikian pula orang sering merasa sayang kepada anaknya. Bila diteliti akan diketemukan bahwa diri sendiri menghargai anaknya hanyalah untuk kehormatan. Jika anak itu membuat bangga orang tuanya, akan disayangi, tetapi bila memalukan akan dibenci.
Rasa yang sering disebut sayang kepada anak itu adalah rasa hidup untuk kelangsungan jenis, yang wujudnya memelihara anaknya pada waktu kecil. Rasa hidup tersebut bukanlah kasih. Oleh karena itu setelah anak itu menjadi besar akan berselisih dengan orang tuanya.
Oleh karena orang menghargai anaknya hanyalah untuk kehormatan, maka orang itu berbuat sewenang-wenang kepada anaknya. Bila orang mengerti kesewenangannya kepada anaknya maka catatan keluarga yang merupakan unsur Kramadangsa bagian anak menjadi benar. Bila rasa sewenang-wenang muncul dalam perasaan dalam hubungannya dengan anak diketahui, tidak akan lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang.
Catatan gerombolan atau golongan, yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan tersebut benar rasanya enak, bila salah tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan mengetahui unsur tersebut.
Golongan tersebut dapat merupakan golongan filsafat, ilmu jiwa, partai politik, kebatinan dan sebagainya. Unsur golongan menyebabkan orang menjadi benci bila golongannya diganggu dan senang bila dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan anggota-anggota golongan tersebut, catatan golongan akan salah.
Catatan golongan salah menyebabkan perselisihan dalam golongan tersebut. Perselisihan tersebut sering berwujud perebutan harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Jadi heboh dalam golongan disebabkan oleh karena tidak mengerti rasanya sendiri.
Jadi ketenteraman golongan itu hanyalah tergantung kepada pengertian diri sendiri. Bila orang mengerti bagaimana orang menghargai anggota golongan lain, catatan golongan akan benar.
Dalam golongan, orang mempergunakan kawan segolongannya untuk kepentingan sendiri yang seolah-olah untuk kepentingan golongannya. Kepentingan sendiri tersebut berwujud mencari harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Kepentingan sendiri itulah yang menyebabkan perselisihan.
Jika kepentingan sendiri diteliti, akan terlihat bahwa kepentingan-kepentingan sendiri itu banyak sekali yang bertentangan dengan kepentingan kawan-kawan yang lain. Pertentangan kepentingan-kepentingan tersebut menyebabkan kesulitan. Bila kesulitan tersebut tidak dipecahkan, tentulah dikemudian hari akan terjadi perselisihan.
Bila kesulitan tersebut dapat diselesaikan, maka catatan menjadi benar, orang akan mengetahui bila rasa mencari keuntungan dari golongannya tersebut muncul dalam perasaan. Bila ketahuan, tidak akan lahir menjadi perbuatan. Mengetahui hal tersebut rasanya tenteram.
Catatan bangsa yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila benar rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati, orang akan melihat unsur bangsa tersebut.
Bangsa adalah kumpulan orang-orang dalam satu negara. Unsur bangsa itu menyebabkan orang marah bila diganggu dan tertawa bila bangsanya dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain dalam satu bangsa, maka catatan bangsa akan salah. Catatan bangsa salah menyebabkan pertikaian dalam bangsa itu. Pertikaian tersebut sering berwujud pertikaian filsafat, ilmu jiwa, dan aliran. Apabila pertikaian itu berkembang, maka akan menjadi perang saudara.
Bila rasanya sendiri diteliti, orang dapat melihat bahwa di belakang filsafat, ilmu jisva atau aliran tersebut mengandung rasa perebutan harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Bila rasa tersebut ketahuan orang akan mengerti bahwa pertikaian filsafat, ilmu jiwa dan aliran tersebut hanyalah merupakan sandiwara diri sendiri yang akan mengejar harta benda, kehormatan dan kekuasaan. lnilah yang menyebabkan huru-hara dalam bangsa.
Bila rasa diri sendiri tersebut diketahui, catatan bangsa yang menjadi unsur Kramadangsa menjadi benar. Bila rasa tersebut muncul dalam perasaan, orang akan mengetahui, sehingga tidak lahir menjadi perbuatan.
Catatan ilmu kebatinan yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar rasanya enak dan bila salah tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan dapat melihat unsur ilmu kebatinan tersebut.
Unsur ilmu kebatinan itu menyebabkan orang menjadi benci bila ilmu kebatinannya disalahkan dan senang bila dibenarkan. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan catatan ilmu kebatinan tersebut, catatan ilmu kebatinan tersebut salah. Catatan ilmu kebatinan salah menyebabkan perselisihan.
Rasanya sendiri yang berhubungan dengan ilmu kebatinannya sendiri itu adalah rasa senangnya sendiri. Orang senang sebab mendapat keuntungan dari ilmu kebatinan tersebut. Keuntungan tersebut berupa harta benda, kehormatan dan kekuasaan.
Bila orang tidak melihat senangnya sendiri, orang tidak akan dapat meneliti benar atau salahnya ilmu kebatinan tersebut. Bila mengetahui rasa senangnya sendiri, orang akan melihat benar atau salahnya ilmu kebatinannya sendiri. Jadi catatan ilmu kebatinan menjadi benar.
Bila catatan ilmu kebatinan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, bila ilmu kebatinannya disalahkan atau dijelek-jelekkan orang lain, orang akan mengerti bahwa yang dijelek-jelekkan itu orangnya, bukan ilmu kebatinannya. Dan orang lalu mengerti bahwa orang lain yang menjelek-jelekkan tersebut benci kepada orangnya tetapi tidak kepada ilmu kebatinannya. Orang benci kepada orang lain tentulah mencari sebab untuk menjelek-jelekkan.
Orang akan mengerti kepada diri sendiri, bila diri sendiri membenci kepada orang lain tentulah juga mencari sebab untuk menjelek-jelekkan. Jadi diri sendiri itu rasanya sama dengan orang lain. Mengetahui demikian rasanya damai dan tenteram.
Kepandaian-kepandaian dan ilmu pengetahuan adalah merupakan unsur Kramadangsa. Ilmu pengetahuan itu ada pada orang berupa kepandaian. Oleh karena itu di sini hanya akan diterangkan tentang kepandaian saja.
Catatan kepandaian yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati orang akan melihat unsur kepandaian tersebut.
Unsur Kramadangsa kepandaian itu menyebabkan orang menjadi benci bila dijelekkan dan senang bila dipuji. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri yang berhubungan dengan kepandaiannya sendiri, catatan kepandaian tersebut salah. Catatan kepandaian salah menyebabkan orang membangga-banggakan kepandaian dan bersaing-saingan kepandaian, sehingga terjadi pertikaian.
Rasa sendiri yang berhubungan dengan kepandaian sendiri itu rasanya bangga. Bila mengetahui rasa bangganya sendiri orang akan dapat mengetahui rasa bangga orang lain dalam hal kepandaian. Orang dapat membuat kapal terbang rasanya bangga, anak dapat bermain gundu bangga pula rasanya.
Malahan rasa bangga dalam kepandaian itu tidak terbatas pada orang tetapi juga pada hewan. Gangsir ngentir (berbunyi) rasanya bangga dan burung dapat terbang di angkasa pun rasanya bangga. Jadi rasa bangga diri sendiri sama dengan rasa bangga orang lain dan sama pula dengan rasa bangga hewan dalam hal kepandaian.
Bila orang mengerti dengan rasa sama tersebut, catatan kepandaian yang menjadi unsur Kramadangsa menjadi benar. Catatan benar rasanya cnak. Bila rasa bangga sendiri muncul dalam perasaan, diri sendiri akan mencari bahwa rasa bangga tersebut sama dengan rasa orang yang menciptakan lagu atau sama dengan rasa seorang panglima perang yang dapat menciptakan siasat perang, sama pula dengan rasanya seekor gangsir yang sedang berbunyi.
Demikianlah unsur-unsur Kramadangsa yang dapat menggerakkan Kramadangsa. Bila unsur-unsur Kramadangsa sudah diketahui, orang tidak akan lupa dengan sikapnya sendiri menghadapi perbuatannya. Demikian cara mempelajari ilmu jiwa.

Sumber : http://reocities.com/SouthBeach/Tidepool/1029/md1.htm



0 komentar:

Poskan Komentar