ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

23 Januari 2011

Piso Surit

Piso dalam bahasa karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang karo. Sebenarnya Piso Surit adalah bunyi sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara seksama sepertinya sedang memanggil-manggil dan kedengaran sangat menyedihkan. Jenis burung tersebut dalam bahasa karo disebut "pincala" bunyinya nyaring dan berulang-ulang dengan bunyi seperti "piso serit". Kicau burung inilah yang di personifikasi oleh Komponis Nasional dari Karo Djaga Depari dari Desa Seberaya Kabupaten Karo menjadi sebuah lagu yang berjudul Piso Serit, sekarang
di sebut Piso Surit. Lagu ini berkisah tentang seorang pemuda yang meridukan kekasihnya tetapi tak kujung bertemu. Utuk melestarikan judul lagu yang sebenarnya, maka jambur yaitu semacam pertemuan Masyarakat Desa dan penyelenggaraan pesta adat di Desa Seberaya diberi nama Jambur Piso Serit.

Piso Surit adalah salah satu lagu berbahasa Karo. Ini adalah salah satu lagu yang sebenernya harusnya hampir semua orang Karo tau. Beberapa orang di luar Karo salah kaprah dengan mengira lagu ini adalah lagu tradisional Aceh. Beberapa juga mengira Piso Surit adalah senjata tradisional dari suku Karo. Piso Surit adalah nama sejenis burung yang sering terdengar bernyanyi di sekitar sawah. Kicauannya konon terdengar sendu dan memanggil-manggil, “Piso surit.. piso surit…

Lagu ini beserta tarian yang mengiringinya mengisahkan tentang seorang gadis yang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian ini sangat lama dan menyedihkan sehingga sering digambarkan dengan burung Piso Surit yang sedang memanggil-manggil.

Lagu ini diciptakan oleh komponis perjuangan yakni Djaga Depari. Beliau telah menciptakan banyak sekali lagu perjuangan sekaligus lagu rakyat Karo. Lagu-lagu tersebut biasanya mengingatkan para pemuda untuk selalu menomorsatukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Bahkan salah satu lagu ciptaannya menggambarkan seorang pemuda yang berkata kepada kekasihnya untuk menunggu sampai Indonesia mendapatkan kemerdekaannya baru mereka dapat naik ke pelaminan.

Untuk menciptakan lagu beliau selalu ditemani dengan biolanya. Liriknya: 
Piso surit piso surit
terdilo dilo terpingko pingko
Lalap la jumpa ras atena ngena
Ija kel kena tengah na gundari
siangna menda turang atena wari
Entabeh naring matakena tertunduh
Kami nimaisa turang tangis teriluh
enggo enggo me dagena
mulih me gelah kena
bage me ningku rupah agi kakana
Tengah kesain keri lengetna
Seh kel bergehna
Terkuak manuk ibabo geligar
Enggo me selpat turang
Kite kite ku lepar
Bait I menceritakan tentang sang gadis yang sering sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan kekasihnya dan selalu teringat akan kekasihnya itu sehingga mengandaikan dirinya sebagai burung Piso Surit yang selalu berkicau sendu.
Bait II mengisahkan sang gadis ini selalu menanyakan keadaan dan keberadaan kekasihnya sambil menangis dalam penantiannya.
Bait III, sang gadis mengatakan di dalam hatinya kepada kekasihnya untuk segera pulang dan menyudahi penantiannya.
Bait IV, sang gadis merasa sangat kesepian/sendiri walaupun berada ditengah-tengah orang banyak. Dia merasa hidupnya hampa tanpa sang kekasih.


Hampir sama dengan lagunya, tarian Piso Surit adalah tarian yang menggambarkan seorang gadis yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung Piso Surit yang sedang memanggil-manggil.

Berkat kepiawaian Djaga Depari menciptakan lagu-lagu berbasis lagu Karo, Moralitas Masyarakat Karo,Perkembangan jaman, adat-istiadat Karo, romantisme sampai kehidupan perjuangan masyarakat Karo semasa merebut kemerdekan dari tangan penjajah pada masa lalu, sehingga sang maestro dianugrahkan gelar sebagai komponis nasional Indonesia, dan kini untuk lebih mengenang jasa-jasa beliau, maka dibangun sebuah monument Djaga Depari, di Persimpangan antara Jl Patimura, Jl. Sultan Iskandar Muda dan Jl. Letjen Djamin Ginting Medan.

* Sumber :
http://budayakaro.wordpress.com/2009/03/18/piso-surit/ dan http://id.wikipedia.org/wiki/Piso_Surit

0 komentar:

Poskan Komentar