ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

19 Januari 2011

Candi Morangan

Candi Morangan adalah sebuah candi yang terletak di Dusun Morangan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Propinsi DIY.Jika diamati dalam peta DIY, maka kompleks Candi Morangan merupakan candi yang menempati posisi paling utara dari keseluruhan kompleks candi yang ada di wilayah Propinsi DIY. Candi Morangan adalah candi yang paling mendekati Gunung Merapi dari candi-candi lainnya di DIY.

Candi ini ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia candi ini kembali tertutup tanah. Pihak SPSP DIY pernah melakukan ekskavasi pada tahun 1982. Ekskavasi yang dilakukan oleh SPSP DIY ini berhasil menampakkan 2 buah bangunan candi yakni candi induk dan candi perwara. Hingga saat ini candi induk pun belum seluruhnya dapat disingkap dan baru dapat digali sekitar tiga perempat bagian saja. Bangunan candi induk memiliki arah hadap ke barat sedangkan candi perwara terletak di depan candi induk agak geser ke sisi utara serta arah hadapnya ke timur.

Pada Candi Morangan ditemukan pula yoni dengan ukuran yang cukup besar. Pada saat ditemukan yoni tersebut masih di situ. Sedangkan lingga yang seharusnya ada dan menjadi pasangan dari yoni tidak ditemukan lagi. Pada saat ditemukan yoni tersebut masih dalam keadaan baik sekalipun pada bagian ceratnya sudah hilang. Pada kompleks Candi Morangan ini juga ditemukan pula arca resi dan sejumlah arca lain di dalam relung-relung candi. Arca-arca ini sebagian besar belum dapat diidentifikasikan. Kecuali itu Candi Morangan belum dapat diamati secara sempurna karena bangunan candi belum dapat direkonstruksi kembali. Hal ini disebabkan oleh karena sebagian bangunan candi masih belum ditemukan (terpendam) di dalam tanah.

Melihat ciri-ciri ragam hias pada arca Candi Morangan yang mirip dengan Candi Prambanan, maka diduga usia Candi Morangan tidak jauh berbeda dengan Candi Pramabanan, yakni abad IX M.

Candi induk dari Candi Morangan memiliki denah bujur sangkar serta memiliki selasar. Keruntuhan candi ini diduga salah satunya akibat terjangan banjir dari Sungai Gendol yang letaknya tidak lebih dari 200 meter di sisi timur kompleks candi. Aneka gambar binatang, pohon, hingga dewa menyembul di antara bongkahan tanah yang belum tergali sempurna. Candi Morangan menorehkan harmoni hubungan manusia dengan alam di dinding-dinding batunya yang telah lama terkoyak oleh lahar Merapi.

dinding

Di pintu muka candi induk yang menghadap ke barat, dua relief kembar saling berhadapan di antara tangga menggambarkan seekor gajah suci berkalung lonceng dinaiki dua pria yang mengusung kendi tanah liat.
Pada Minggu, beragam burung mulai dari burung gereja, burung kakaktua, hingga burung merak menghiasi relung batuan candi. Belum lagi, aneka goresan binatang seperti sapi, kijang, dan kancil. Dibanding ukiran manusia atau dewa, gambar binatang dan ukiran bunga teratai serta pohon justru mendominasi.
“Candi bagi umat Hindu ibarat tempat bersemayam para dewa yang indah dan nyaman karena juga dihuni oleh aneka binatang dengan hutan dan tanaman yang masih terpelihara. Banyaknya relief binatang ini menunjukkan kedekatan hubungan manusia dengan lingkungannya,” tutur peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta Sofwan Noerwidi.

Sekilas memandang, mayoritas batu di Candi Morangan masih seperti puing yang terserak. Sejak beberapa tahun, kegiatan ekskavasi belum lagi dilanjutkan. Batu-batu andesit berwarna hitam itu pun tergeletak di ladang galian sedalam enam meter. Mereka seakan menanti tangan-tangan yang haus akan sari pati kehidupan untuk belajar dari gambar-gambar yang tertoreh sejak zaman dahulu kala.

Sebagian dari batu tersebut telah disusun ulang membentuk candi bernapas Hindu yang menempati posisi paling utara dari seluruh candi di Yogyakarta. Berada dekat dengan kaki Gunung Merapi membawa konsekuensi kerusakan paling parah akibat aliran lahar. Namun, panasnya beberapa kali aliran lahar dingin yang tertoreh dari lapisan tanah ternyata tak mampu menghapus jejak-jejak peradaban di batu-batunya.

Menurut Sofwan, mayoritas candi Hindu lebih kaya dengan cerita Ramayana atau Kresnayana. Namun, Candi Morangan terlihat lebih unik karena banyak mengusung kehidupan binatang-binatang. Relief binatang ini tersebar di dua bangunan yang berhasil dirangkai, baik berupa candi induk maupun candi perwara. Pada dinding tanah yang digali terlihat lapisan-lapisan yang menyiratkan bahwa aliran lahar sudah beberapa kali menimbun candi.

Bukan suatu kebetulan jika Candi Morangan kaya dengan relief binatang. Selain sebagai media meditasi atau berdoa, goresan relief di candi sekaligus berfungsi sebagai media pembelajaran. Banyaknya gambar pohon, misalnya, mengajar manusia untuk menjaga lingkungan dengan tidak menebang pohon.

Tak ada salahnya, sebagai manusia, kita menengok sejenak kearifan masa lalu yang tertoreh di relung-relung batu candi. Dengan sejenak mengamati, batu-batu itu sanggup mengisahkan harmoni keeratan hubungan dengan alam yang kini semakin terpinggirkan. Jika mau belajar dari batu-batu Candi Morangan, mungkin Indonesia tidak akan menjadi ladang kunjungan Pangeran Charles yang terus berseru- seru agar manusia Indonesia menjaga lingkungan.

* Sumber : Kompas Cetak dan beberapa sumber lainnya

0 komentar:

Poskan Komentar