ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

11 Januari 2011

Masjid Agung Demak (Jejak Trowulan di Tanah Rawa)

Di separuh pertama bulan puasa, masjid di Jalan Sultan Patah itu selalu kebanjiran pengunjung. ''Selain salat, mereka juga ziarah,'' kata KH Muhammad Muzadin Munawar, Imam Besar Masjid Agung Demak. Di kompleks masjid memang terdapat 60 pusara makam pejuang muslim Demak. Antara lain Raden Patah, Pati Unus, dan Sultan Trenggono.
Mereka bertiga adalah Sultan Demak pertama sampai ketiga.
Masjid Agung Demak terletak di sebelah barat alun-alun. Umumnya, tata letak kota kuno di Jawa selalu menempatkan alun-alun di sebelah utara dan selatan istana. Ruang publik itu, pada masa lampau, berfungsi sebagai tempat berkumpul sesama rakyat untuk menghadap rajanya. Pola ini sama dengan tata ruang pusat kota Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur.

Pada pusat kota pemerintahan Majapahit itu, berlaku pembagian zona yang menempatkan area peribadatan di sebelah barat laut, dekat pusat pemerintahan. Meski belum jelas letaknya, pusat pemerintahan Demak bisa jadi tak jauh dari masjid agung. ''Itu dirujuk dengan alun-alun di depan masjid yang biasanya dekat dengan pusat pemerintahan,'' kata Inajati Adrisijanti M. Romli, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Bangunan model Majapahit, yang membawa corak kebudayaan Bali, banyak mempengaruhi arsitektur Masjid Demak. Gaya itu berpadu dengan langgam rumah tradisional Jawa Tengah. Inajati memperkirakan, ahli rancang bangun Masjid Demak berasal dari Majapahit. ''Tapi arsitek sesungguhnya belum bisa dipastikan,'' kata wanita yang pernah jadi staf ahli pemugaran Masjid Agung Demak ini.

Banyak versi yang menyebut Wali Songo sebagai pendiri Masjid Demak. Namun, cerita itu banyak yang meragukannya, karena sembilan wali tak hidup dalam waktu yang sama. Menurut Babad Demak, daerah Glagahwangi sebagai tempat Masjid Demak, pertama kali dibuka oleh Raden Patah. Putra Prabu Kertabumi atau Brawijaya V ini mendirikan pesantren dan masjid di daerah rawa-rawa itu.

Pengalaman hidup Raden Patah di Palembang membuatnya bisa menyiasati tanah lembek itu, dengan cara membangun masjid berkonstruksi rumah panggung. Terbukti dengan ditemukannya umpak batu di dasar tiang pada 1987. Keterlibatannya dengan Majapahit, hingga diangkat menjadi Adipati Demak, memberinya pengalaman arsitektur Majapahit. Pemahaman ini dipakainya ketika membuka Glagahwangi.


Film Para Wali Kedekatan arsitektur Masjid Demak dengan bangunan Majapahit bisa disimak pula pada bentuk atapnya. Kubah, yang identik dengan ciri masjid sebagai bangunan Islam, malah tak digunakan. Bentuknya justru mengadopsi bangunan peribadatan agama Hindu. Ini merupakan upaya membumikan Masjid Demak, sebagai sarana penyebaran agama Islam pada abad ke-15, di tengah masyarakat Hindu.

Bentuk atap yang dipakai adalah tajug tumpang tiga. Bagian paling bawah menaungi ruangan berdenah segi empat. Atap bagian tengah mengecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di bawahnya. Sedangkan atap tertinggi berbentuk limasan, dengan tambahan hiasan mahkota pada puncaknya. Komposisi ini mirip meru, bangunan tersuci di pura Hindu.

Meru memiliki bentuk atap tajug berlapis. Sebenarnya, bentuk meru hanya tercermin pada atap masjid. Jika menilik sistem konstruksinya yang terdiri dari empat saka guru, yang klop dengan bentuk atap Masjid Demak adalah Bangunan Wantilan di Bali.

Bangunan beratap tajug tumpang dua yang disangga empat saka ini memiliki denah bujur sangkar. Tepinya berundak-undak. Fungsinya sebagai tempat pentas tari. Namun sering pula dipakai sebagai arena adu ayam, yang merupakan awal prosesi tabuh roh dalam agama Hindu. Bentuk bangunan ini dipercaya terdapat pula di pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan. Boleh jadi, meluasnya pemakaian bangunan ini terjadi setelah Bali ditaklukkan Majapahit.

Masjid Agung Demak, yang menempati lahan seluas 11.220 meter persegi, kini seolah menjadi ciri kota Demak. Seluruh kompleks masjid, termasuk Yayasan Masjid Demak, menempati lahan enam hektare. Kompleks itu terdiri dari masjid, serambi, makam, tempat wudu, dan pawestren. Selain itu, masih ada pula gedung Majelis Ulama Indonesia, sekolah, museum, dan wisma tamu.

Pawestren adalah ruang untuk wanita menjalankan salat. Luasnya 15 x 17,30 meter. Dibangun pada 1866 ketika KRMA Arya Purbaningrat menjadi Adipati Demak. Bangunan berkonstruksi kayu jati ini terletak di sebelah selatan masjid. Atapnya berbentuk limas, disangga delapan pilar bergaya Majapahit. Empat di antaranya menopang belandar balok bersusun tiga.

Sepanjang riwayatnya, Masjid Agung Demak, menurut Muhammad Muzadin, sedikitnya 16 kali dipugar. Pertama kali oleh Raja Mataram Paku Buwono I, pada 1710. Ia mengganti atap sirap yang rapuh. Pembangunan menara azan baru dilakukan pada 2 Agustus 1932. Bangunan berkonstruksi baja itu menelan biaya 10.000 gulden.

Ada tiga pintu masuk ke dalam masjid. Sebelah kiri berhadapan dengan tempat wudu wanita, pintu masuk ke sebelah kanan bertaut tempat wudu pria. Sedangkan pintu di tengah langsung mengantarkan ke serambi masjid. Serambi seluas 29 x 17 meter dan berlantai teraso 30 x 30 sentimeter itu juga sering disebut ''Serambi Majapahit''.

Julukan itu melekat karena pilar di serambi itu mirip dengan bangunan ''Siti Hinggil'' di Majapahit. Kemungkinan, delapan pilar itu diambil dari bangunan di Senggaluh, setelah Demak menaklukkan Majapahit pada 1479, sebagai bukti kemenangan. Senggaluh, yang kini masuk wilayah Kediri, merupakan benteng terakhir pertahanan Majapahit sewaktu digempur Demak. Anggapan itu belum dibuktikan kebenarannya. ''Jarak Majapahit dengan Demak sangat jauh,'' kata Inajati.

Film Para Wali Misteri memang masih menyelubungi sebagian riwayat Masjid Agung Demak. Berdirinya masjid ini pun berasal dari penafsiran yang terdapat pada prasasti Lawang Bledheg. Prasasti sekaligus pintu utama di tengah masjid itu mencantumkan penanda waktu atau candrasengkala berbunyi ''naga mulat salira wani''. Artinya, tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi. Petunjuk ini diperkirakan sebagai awal dibangunnya Masjid Demak.

Lawang Bledheg atau ''pintu petir'', yang menghubungkan serambi dengan ruang utama masjid, memiliki dua daun pintu. Pada masing-masing kepingnya tertera ukiran naga. Konon, pintu ini dibuat Kiai Ageng Selo, nenek moyang raja pertama Mataram, Panembahan Senopati, yang dalam cerita rakyat disebut punya kemampuan menangkap petir. Kilat itu, masih kata legenda tadi, diikat di Lawang Bledheg. Kini, yang dipasang di masjid cuma tiruannya. Sedangkan pintu aslinya disimpan di Museum Masjid Demak.

Penanda waktu lain terdapat di dinding mihrab bagian dalam. Di ruang berwarna kuning keemasan, tempat imam memimpin salat, itu terpampang tablo bergambar bulus. Kepalanya satu, kakinya empat, badannya bulat, dan ekornya satu. Ini dianggap menunjukkan tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi. Tanda ini diperkirakan menunjukkan mulai diperluasnya Masjid Demak, bertepatan dengan keberhasilan Demak menaklukkan Majapahit yang sudah mengungsi ke Senggaluh.

Perluasan besar-besaran untuk menjadi masjid agung diperkirakan berlangsung pada 1504-1507. Pada masa itu, agama Islam makin meluas. Perubahan dari tata cara sembahyang agama Hindu di ruang terbuka ke dalam masjid mencuatkan pemikiran untuk membuat interior masjid yang luas. Apalagi, penduduk Demak kala itu mencapai 10.000 keluarga.

Kesan luas itu sampai sekarang masih terasa pada ruang utama masjid. Sedikitnya, 500 jamaah bisa ditampung di ruang yang luasnya 25 x 26 meter itu. Lantainya menggunakan konstruksi bata, ditutupi marmer 70 x 70 sentimeter. Tinggi lantainya 35 sentimeter dari permukaan pelataran paling luar. Atau 3 sentimeter lebih tinggi dari lantai serambi.

Di sebelah kanan ruangan ini terdapat ruang khalwat. Ruang perenungan berukuran 2 x 2,5 meter ini dulunya dipakai para penguasa melakukan salat dan munajat untuk memohon petunjuk Tuhan. Hampir sekujur ruangan ini dipenuhi ukiran model Majapahit. Pada salah satu sudutnya terdapat relief aksara Arab yang artinya memuliakan keesaan Allah.

Yang menarik dari Masjid Demak adalah sistem strukturnya. Di ruang utama terdapat empat saka guru, setinggi 19,54 meter, yang konon merupakan karya empat wali. Sunan Kalijaga membuat pilar timur laut. Sunan Bonang untuk tiang barat laut. Saka guru tenggara dibuat Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati membuat yang barat daya.

Saka guru yang dibuat Sunan Kalijaga, menurut Tembang Babad Demak, sering disebut saka tatal, karena berasal dari tatal atau ''serpihan'' kayu. Potongan kayu agak besar itu digabungkan menjadi satu dengan perekat jabung, menyan, atau damar. Lalu dipasak dan diikat erat. Setelah kokoh --konon sampai butuh waktu dua tahun-- ikatannya dilepas, dan dihaluskan menjadi saka guru.

Empat saka guru setebal 1,45 meter itu menahan beban bagian atap tertinggi dan menjadi penyangga atap di bawahnya. Tiang sekeliling saka guru menahan beban atap tajug, dan menjadi tautan atap paling bawah. Tiang paling luar menyalurkan beban atap terendah, sehingga dinding masjid hanya menanggung beban sendiri.

Ekspresi tektonika dengan membagi beban seperti ini menunjukkan kemampuan memakai struktur rumah Jawa untuk membentuk bangunan yang besar. Perpaduan berbagai corak dalam arsitektur Masjid Agung Demak, boleh jadi, menyiratkan bahwa tepa selira antarpemeluk agama sudah berlangsung sejak dulu.

Sumber : Sigit Indra, dan Sujoko [Majalah Gatra]

1 komentar:

ita roihanah mengatakan...

ijin copy fotonya ya.. untuktulisan saya,yang membahas atap tajug jawa..
terimakasih sebelumnya..

Poskan Komentar