ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

22 Mei 2011

Sekilas tentang Pulau Gemantung

Pulau Gemantung adalah sebuah Kesatuan Desa yang termasuk ke dalam Wilayah Administratif Kecamatan Tanjung Lubuk Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Pulau Gemantung saat ini terdiri dari empat desa yaitu Pulau Gemantung Induk (Pusat), Pulau Gemantung Ilir (Hilir/Sabah), Pulau Gemantung Ulu (Hulu) dan Pulau Gemantung Darat (Urai - Urai). Masing-masing dari empat desa tersebut dikepalai oleh seorang Kepala Desa yang bertanggung jawab atas pemerintahan administratif dari masing-masing wilayah desanya. Namun secara kultur dan lingkungan, masyarakat Pulau Gemantung pada umumnya masih berbaur dengan akrab antara satu desa dengan desa yang lainya, ini disebabkan karena pada awal mulanya desa tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, namun seiring perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk, akhirnya pada tahun 2007 Pulau Gemantung dibagi menjadi empat desa.

Pulau Gemantung dihuni oleh sekitar 5500 - 6000 jiwa penduduk lebih. Sebagian besar dari jumlah penduduknya adalah pribumi/penduduk asli. Agama yang di anut adalah agama Islam, yang sudah mengakar sejak lama dan berbaur dengan unsur budayanya. Budaya setempat sangat dipengaruhi oleh tiga kerajaan serumpum melayu, diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Skala Brak (Daerah Ranau perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung) dan Kesultanan Palembang Darussalam yang pernah berjaya dimasing - masing masanya dan membawa pengaruh yang melekat hingga kini.

Hal ini terbukti dari bahasa, adat istiadat serta budaya yang berlaku.
Bahasa yang dipergunakan sehari-hari oleh sebagian besar masyarakatnya adalah Bahasa Komering dengan dialek Marga Bengkulah. Bahasa Komering dialek Marga Bengkulah merupakan sebuah bahasa yang termasuk kedalam rumpun bahasa Lampung/Skala Brak atau dalam klan bahasa dunia termasuk kedalam rumpun Bahasa Melayu Proto (Penduduk pendatang dan penghuni pertama di daratan Pulau Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya). Dialek Marga Bengkulah akan terdengar cenderung berintonasi lebih datar, halus serta tidak mendayu jika dibandingkan dengan Bahasa Komering Ulu (mendiami bagian hulu Sungai Komering) yang intonasinya akan cenderung lebih tegas, tinggi dan mendayu.

Jika dilihat dari aspek adat istiadat serta budaya, mulai dari pakaian tradisional, makanan, tata cara adat atau prilaku sosial masyarakat, arsitektur rumah adat, kerajinan tangan dan peralatan rumah tangga tradisional, serta seni tari dan musik dsb. Maka semua masih merujuk kepada warisan dan pengaruh budaya dari Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.


Rumah Adat Marga Bengkulah, salah satu situs/peninggalan sejarah yang sudah terlupakan di Sumatera Selatan.

Sedangkan dalam aspek hukum adat dan hukum sosial yang berlaku, lebih dipengaruhi dan berpedoman kepada hukum Islam yang penerapannya diselaraskan dengan budaya setempat serta tidak mengurangi dan mencemari kemurnian keduanya. Bauran unsur pengaruh budaya tersebut menjadi sangat harmonis dan menjadi jati diri yang utuh dari masyarakat Pulau Gemantung, yang tentunya harus dapat dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerusnya.
Mata pencarian utama penduduk Pulau Gemantung adalah bertani, berkebun, dagang, abdi negara dan masyarakat. Hal lain yang cukup menarik yaitu kebiasaan dari sebagian penduduknya, terutama laki-laki yang sudah berusia matang akan cenderung pergi merantau (keluar daerah) dengan berbagai alasan dan kepentingan, baik untuk bekerja atau menuntut ilmu (belajar), kebiasaan yang telah lama berlangsung ini disebabkan karena jauhnya akses ke pusat kota dan pemerintahan, ketersediaan lapangan pekerjaan dan peluang upaya pengembangan diri serta peluang pencarian napkah di daerah tersebut masih sangat minim.

Hasil utama komoditi pertanian didaerah tersebut adalah padi, sayur-sayuran serta kacang-kacangan. Untuk komoditi perkebunan, hasil utama lebih didominasi oleh buah-buahan diantaranya adalah pisang, duku/langsak (Komering/Palembang), durian, rambutan, manggis dan kelapa. Sedangkan untuk komoditi perkebunan non buah-buahan yang saat ini sedang marak-maraknya dikembangkan oleh masyarakat adalah perkebunan karet (latex).

*Sumber : http://desapulaugemantung.blogspot.com/2010_11_01_archive.html

0 komentar:

Poskan Komentar