ANDA PERLU BUKU SENI DAN BUDAYA, hubungi 0857-2994-6859 atau http://www.facebook.com/buku.rupa

2 Mei 2011

Menelusuri Jejak Peninggalan Raja Erlangga dan Kisah Calonarang Versi Kediri

Babad Calonarang semasa pemerintahan Raja Erlangga dari Daha, Kediri, justru lebih populer di Bali. Kendati kisah tersebut telah mengalami banyak improvisasi, namun cerita Calonarang tak pernah lekang oleh waktu. Bagaimana kisah aslinya di Kediri?
Selama lima hari merekam perayaan Galungan umat Hindu di Kecamatan Kandangan, Kediri, Suradi, seorang wartawan koran sempat pula menelusuri peninggalan Kerajaan Daha(Kediri) semasa pemerintahan Raja Erlangga serta menelusuri kisah mistis Calonarang.

Mendapat petunjuk dari Kasi Seni Budaya Kantor Pariwisata Kediri, wartawan koran itu kemudian melakukan perjalanan menelusuri daerah yang diduga menjadi pusat pemerintahan Erlangga pada tahun 1.100. Suradi memulai perjalannya ke Desa Gayam. Di desa yang asri itu terdapat situs Sukorejo dan arca Tothok Kerot. Sedangkan di Desa Sukorejo Kecamatan Gurah terdapat Petilasan Calonarang. Petilasan ini erat kaitannya dengan kisah Calonarang yang sangat populer di Bali. Ceritanya pun sangat mirip.

"Kisah Calonarang itu memang benar-benar terjadi di Kediri dan dibawa ke Bali. Maka dari itu kisahnya tidak jauh beda, mungkin ada beberapa perbedaan dan itu hanya sebagai improvisasi saja. Tetapi intinya tetap sama," jelas Saudi, salah seorang tokoh umat Hindu di Kandangan, Kediri.

Hal yang sama diungkapkan Suradi. Menurutnya, Arca Tothok Kerot di Desa Gayam serta Petilasan Calonarang di Desa Sukorejo Kecataman Gurah sebagai bukti bahwa kisah itu nyata. "Dari hasil penelitian, peninggalan kerajaan itu erat kaitanya dengan zaman pemerintahan Raja Erlangga atau saat terjadinya kisah Calonarang itu," jelasnya.

Diceritakan Suradi, kisah Calonarang itu terjadi di Desa Girah yang kini sudah menjadi Desa Gurah. Di sisi timur kerajaan Kediri, hidup seorang rondo (janda) setengah baya, dukun penguasa ilmu hitam dan penganut aliran Durga yang sangat sakti dan jahat. Wanita itu pun oleh masyarakat di sana dijuluki Rondo Naten Girah (janda yang tingal di Girah). Karena sangat jahat, ada yang menamainya
Calonarang. "Calonarang ini juga sebagai guru dari padepokan ilmu hitam miliknya dan memiliki puluhan murid yang semuanya perempuan," jelas Suradi.

Di antara puluhan muridnya, itu ada empat murid yang paling senior dan ilmunya sudah tinggi, yakni Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa. "Calonarang juga memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Diah Ratnamangali," ujarnya.

Putri Calonarang inilah yang menjadi pemicu permusuhan Raja Erlangga dengan Calonarang. Pasalnya, kendati cantik, namun tak satu pun pemuda Desa Girah berani mendekati Ratnamangali karena diisukan ikut menguasai ilmu hitam atau di Bali disebut leak. "Bahkan dari hasil penyelidikan kita, isu bahwa Ratnamangali menguasai ilmu hitam seperti ibunya, semakin tersebar luas," ujarnya.

Mengetahui kalau putrinya dipergunjingkan menguasai ilmu hitam, Calonarang yang khawatir putrinya akan menjadi perawan tua, merasa sangat terhina. Dia pun naik pitam dan bertekad membalas dendam kepada masyarakat. Setelah mendapat waktu tepat, Calonarang kemudian memuja Batari Durga dan meminta agar diizinkan menyebarkan penyakit untuk membunuh masyarakat sebanyak banyaknya. Oleh Batari Durga permintaan itu dikabulkan dengan syarat wabah penyakit yang disebarkan itu tidak sampai ke kota kerajaan.

Setelah keinginannya direstui, Calonarang lalu meminta Nyi Larung agar mengumpulkan semua murid-muridnya untuk diberikan tambahan ilmu hitam sebelum ditugaskan menyebarkan penyakit ke masyarakat. "Setelah semua muridnya diberikan tambahan ilmu, mereka kemudian berangkat dengan sasaran wilayah pinggiran kerajaan Kediri untuk menyebarkan wabah penyakit," jelasnya.

Lanjut Suradi, tidak lama setelah puluhan murid Calonarang menyebarkan penyakit, korban mulai berjatuhan. Masyarakat Desa Girah dan sekitarnya dilanda wabah dan warga yang mati sambung menyambung. Kejadian itu membuat warga ketakutan dan memilih mengungsi. "Raja Erlangga yang mendapat laporan dari perangkat desa bahwa warganya menjadi korban ilmu hitam Calonarang, menjadi murka," ucapnya.

Raja lalu mengutus prajurit-prajurit terbaiknya untuk menumpas Calonarang dan murid-muridnya. Namun, upaya itu gagal karena kesaktian Calonarang jauh lebih tinggi sehingga semua prajurit termasuk Ki Patih Madri yang memimpin pasukan itu tewas. Kekalahan pasukan Kediri itu semakin membuat Erlangga marah.

Kemudian raja memanggil penasehatnya. Oleh para penasehatnya raja kemudian diminta agar mengutus Empu Baradah yang tinggal di Desa Lemah Tulis karena hanya dialah yang bisa menghentikan kekejaman Calonarang. Empu Baradah menyanggupi permintaan raja. Karena Calonarang sangat sakti, maka untuk menumpasnya selain menggunakan kesaktian, juga harus pakai taktik. "Empu Baradah kemudian meminta putranya Empu Bahula agar memperistri Ratnamangali dengan tujuan agar bisa mencuri kitab yang menjadi rahasia kesaktian Calonarang.

"Taktik Empu Baradah sukses dan kitab rahasia Calonarang berhasil dicuri sehingga kelemahan ilmu Calonarang bisa diketahui," jelasnya. Kemudian Empu Baradah mendatangi padepokan Calonarang untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatan kejinya. "Setelah semua kesalahan Calonarang dibeberkan, lalu Empu Baradah bertarung dengan Calonarang dan dimenangkan Empu Baradah," ungkapnya.

Kisah Calonarang di Kediri tak jauh beda dengan cerita yang berkembang di Bali. Hanya nama tempat kejadiannya yang sudah mengalami sedikit perubahan. Seperti Daha yang kini menjadi Doho, Girah berubah Gurah dan Jenggala berubah Jenggolo.

*Sumber text : diolah dari  http://www.mail-archive.com/hindudharma@itb.ac.id/msg04160.html,

2 komentar:

Purwita mengatakan...

sangat bermanfaat. trimakasih

Ary Wibowo "AW" mengatakan...

Mantap.... Aku salah 1 pecinta negri Kahuripan.... Airlangga Wikrakamattunggadewa.

Poskan Komentar